Senin, 10 Februari 2014

Nenekku Sayang kembali Kanak

"Minumlah madu setiap hari, Nek. Madu itu obat segala macam penyakit."

Kubuka pembicaraan setelah sedari tadi nenek memandangiku lekat. Entah apa yang sedang berlalu lalang di imajinya melihat cucu perempuannya semakin dewasa. Sesekali nenek memejamkan matanya. Tapi kutahu ia tidak sedang mengantuk. Beranda rumah memang tempat yang nyaman untuk sekedar melepas kantuk. Terlebih siulan angin yang hilir mudik meninabobokkan tuannya. 

"Iya, tapi maduku sudah habis. Belakangan kepalaku sering sakit. Penglihatanku rasanya sedikit demi sedikit makin kabur. Lututku apalagi, ngilunya berlangganan tiap malam."

Ah, nenekku sudah benar-benar tua. Lama sekali rasanya aku tidak tidur dengannya. Sejak masuk SMA, aku tinggal di rumah tante yang letaknya lumayan dekat dari sekolah. Jarak rumah dengan sekolah bukanlah perjalanan pulang pergi seharian, makanya kuputuskan untuk tinggal di rumah tante di kota. Sejak itu, tante melarangku sering kembali ke rumah. Sekali sebulan saja ia mengizinkanku. Lalu sejak itu, aku tidak banyak berkabar dengan nenek. Terlebih berkenalan dengan dunia kampus, kembali ke kampung tidak lagi masuk dalam daftar keharusan. Saat liburanpun, kembali ke kampung seminggu itu  sudah sangat lama.

Bertukar kabar rasanya tidak cukup melalui handphone saat menelpon ibu. Ibuku, saat kutelpon dan menanyakan kabar tentang nenek, pasti dijawabnya baik-baik saja. Mungkin ibu tak ingin aku khawatir. Perihal nenek, ibu sering bercerita tentang sifatnya yang semakin kekanak-kanakan. Sesuatu yang sebetulnya tak perlu dipikirkan, ia pikirkan, malah dibesar-besarkan. Padahal, nenek punya tekanan darah tinggi. 

Suatu malam, aku berniat menginap di rumah nenek yang sebetulnya letaknya tepat bersebelahan dengan rumahku. Kadang, aku memang lebih memilih menghabiskan sebagian siangku di beranda rumahnya, dibanding menginap di sana. Sebab nenek tidur lebih awal, aku mengistilahkannya masih terlalu pagi. Nenek tidur setelah shalat isya sekitaran jam 8. sementara aku tidur setelah jam 12 malam. Aku memutuskan untuk tetap menginap di rumahnya malam itu, sebab siangnya ia yang memintaku. Sepertinya nenek merindukanku. 

Nenekku sayang kini tinggal serumah  hanya dengan adiknya saja. Silat lidah sudah hal biasa kata ibu. Ah, aku sulit membayangkan jika salah satu dari mereka tak ada yang mau mengalah. Mereka sudah sama-sama tua. Banyak, sangat banyak hal kecill yang dibesar-besarkan nenek, begitulah sampai hampir tiap hari kedua nenekku itu saling silang pendapat. Untunglah sang adik sering kali diam kala nenek mulai naik pitam.

Ah, nenekku seperti anak kecil. Bandel. Bahkan ibu pun tak didengarnya. Seringkali ibu melarangnya mencuci pakaiannya, biarkan ibu saja yang melakukan. Namun, karena keras  kepala, ia lalu mencucinya sendiri. Sejak ditinggal rantau anak bungsunya beberapa bulan yang lalu, kekanakannya makin menjadi. Keras kepalanya pun makin tak bisa diampuni. Rumahnya tak lagi ramah. tak ada yang menengahi perdebatan kedua nenekku.

Ah, nenekku rasanya menjadi anak kecil yang kadang akupun merasa lebih dewasa.
Hanya doa pemintal kasih antara kita, Nek. Semoga umurmu masih sangat panjang, hingga kelak kau bisa bermain dengan cucu cicitmu. :)

4 komentar:

  1. sangat suka tulisan mu yg ini, icma :)

    BalasHapus
  2. makasih kak irma syg..
    maaf kalau bikin kak irma merindukan grandma nya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lututku terjatuh membaca cerpen ini :D

      Hapus
    2. Hai Kau. Kenapa dengan lututmu :D

      Hapus