Minggu, 30 Januari 2011

BOSAN

mari gores menggores lagi... huwah beberapa hari vacum curhat-curhatan di blog rasanya hambar. bagaimana tidak, beberapa hari ini kuhabiskan waktuku dengan percuma. Tetap dengan postingan yang lama rasanya bosan.
iya, beberapa hari in kuhabiskan waktuku dengan hal-hal yang tidak bermanfaat. tidur, makan, keluar masuk kamar, tidur lagi,huhu sangat tidak produktif.
bangun, shalat subuh,
tidur lagi, bangun jam9,
beres-beres kamar, mandi,
bercengkrrama di kamar sebelah kalo mereka ga ada kegiatan,
menjelang sore tidur lagi,
malam nonton film sampai larut,
skali-skali keluar jalan (kalo yg ini baru menyenangkan)
ah bosan, rasanya liburanku kali sangat membosankan, kadang juga tinggal sendirian di kost-an kalo yang lain pada punya kegiatan di kampus. ngek.
mending ngampus lagi kalo kaya gini.
bodoh,
yangg salah siapa coba, harusnya banyak yang bisa kulakukan, tapi dasar ini tulang-tulangku malas bergerak jadinya gini deh.
sebaiknya kubuat jadwal baru untuk kegiatanku sepanjang hari dan mulai sekarang harus kuterapkan
ayo ISMA SMANGAT!!!
05.00 shalat subuh,
joging keliling kampus
beres-beres kamar,
sarapan,mandi,
bereproduksi (apakantu mae, liat sikon juga yangg jelas bukan tidur, baca itu buku yang numpuk, nulis di blog, cari-cari materi kuuliah, jalan-jalan. produktif itu jalan-jalan plus foto-foto nah, bisa merefresh otak, nonton, belajar main keybord, kan ada punyanya k' ayu di kost skali-skali bisa dipinjam gila-giilaan mii situ)
tidak ada waktu untuk tidur siang, pokoknya "TIDAK BOLEH"
MISI kali ini harus sukses, Ok....

Tangisan pencari kehidupan

Mulutku semakin terkunci, ketika orang-orang disekitarku lagi-lagi mengeluhkan hal yang sama. Kulangkahkan kakiku mendekati ruang lingkup mereka. Terlalu lama mereka mengimpikan hal itu.
“Terbebas dari lingkar derita”
Itulah impian mereka. Berada di tempat ini memang sangatlah tidak pantas. Berjalan di atas kerasnya kehidupan dengan menggenggang hidup 5 orang anak bahkan lebih. Pernahkah orang-orang yang ada di kursi emas memegang janji dan lantunan indah dari bibir mereka memikirkan orang-orang yang bergelut dengan tikus-tikus got dan tumpukan sampah? Jangan kan memikirkan tikus-tikus itu, tikus-tikus besar penindas dan perampas uang rakyat pun tak sanggup mereka basmi. Sungguh tak ada gunanya jabatan yang mereka miliki.
Ketika kutanya, apakah anak-anakmu bersekolah?
Dengan sedikit tersenyum, dia kemudian menatap anak-anaknya begitu pilu. Anak sekecil itupun harus bercengkrama di luar sana demi mendapatkan sesuap nasi. Mereka begitu bahagia menghitung sepeser demi sepeser recehan yang mereka dapat. Pilu, kusesali menanyakan hal yang tadi. Jangankan bersekolah, makan pun mereka susah.
Kembali ku langkahkan kakiku. Kali ini kutemukan beberapa anak berpakaian sekolah yang nampak begitu lusuh memegang beberapa koran. Kudekati dan bertanya. mengapa kalian harus bekerja begitu keras sampai tak sempat mengganti baju seragam kalian dulu. Tak sempat menjawab, mereka kemudian berlari.
Sungguh malang, kurasa mereka berjuang begitu keras demi melanjutkan sekolah, kadang hati ini mengangis melihat begitu tidak berdayanya pemerintahan kita. Mengapa orang-orang seperti mereka tidak mendapatkan bantuan? Bukankah subsidi dari pemerintah bisa membantu mereka. Oh tidak, aku pun tersadar, kurasa anak-anak seperti mereka bernaung di sekolah-sekolah swasta. Itu karena mereka tak mampu bersaing untuk masuk ke sekolah sekolah negeri. Bukan karena mereka bodoh, kolusi akan selalu berjaya, banyak di antara orang-orang yang berkelimpahan uang dengan mudahnya mengenyam pendidikan dengan uang mereka, merampas kursi yang seharusnya milik mereka sang pencari kehidupan. Lemahnya pemerintahan tak kan mampu menghalangi mereka mencari kehidupan yang layak. Mereka akan tetap hidup dalam indahnya penderitaan. Bayangkan ketika mereka bersekolah di sekolah swasta yang jelas biayanya jauh lebih mahal, mana mungkin mereka bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Sementara di sisi lain, mereka yang berada di sekola-sekolah negeri dan kebanyakan berkelimpahan malah mereka yang menerima subsidi pemerintah. Apakah ini adil?

Minggu, 16 Januari 2011

Gara-gara Cermin


Hujan, saya sayangki (mengutip dari postingannya k’ tyar). saking saya sayangta tadi hujan2ka sama temanku, namanya nenny. Kita tau kenapa?  Gara-gara CERMIN.  Iya, mau cari cermin, kemarin cerminku pecah, dipecahkan sama NENNI. Kronologisnya begine, kemarinkan dudukka dengan kursi usangku yang setia menemani, trus datang NENNI dengan tombol ON/OFF dekat hidungnya, warnanya sudah memerah dicampur dengan warna putih, katanya sih sakit skali , tapi nda tau deh itu bohong atau memang sakit (serius bede’).  Trus dia ke kamarku, dia ambil cerminku, terus dengan PDnya dia bawa keluar, berpose lagi di depanku. Dengan pose kaki di atas  terus tangannya megang-megang tombol ON/OFFnya. Tinggal saya dorong mami itu langsung jatuh ke tanah, tapi dak tegaka juga iya.
 Sebenarnya dak adajii hubungannya megang-megang tombol ON/OFFnya dengan pecahnya cerminku.hehehehe.  karna pecahnya cerminku itu di karenakan beberapa factor. Kenal dengan istilah SI PAHIT LIDAH? Itue , yang apa pun yang dia katakan pasti terjadi. Nah, itumii yg dialami NENNY tapi ujung2nya dia sendiri yang dapat sialnya. Kasian....
Dia bilang begini “ pecah sebentar cerminmu ini Isma”, dak lama setelah dia bilang itu pecah betulki cerminku. BEGO. Baru dia sendiri yang pecaHki. Tapi saya fine-finejii iya, malah senangka,hehehehe pake cermin baru. faktor kedua, karena sifatnya yang pelupa, dia taro itu cermin di depan pintu,ku, pas mau ke kamarnya ambil KUE (ole2 dari kampungnya, padahal satu kampungja, hehehehe), pas balik, dia dengan wajah berseri-seri, dia masuk ke kamarku ambil piring,,, selangkah demi selangkah, PREEEK... beeh, pecahmii itu kasian cermin kesayanganku (karna memang satu2nya cerminku, zpa lagi mau za sayang kalo bukan dia).  Baru lucunya lagi pas mendarat kakinya di cerminku, reflex dia bilang “ma’gantika’”.. Hahahaha... iya, itu cermin dia injak, we’eh maunya lagi dibilangi mungil kakinya. Iyo pade’ mungil kakimu, tapi sayang dak semungil nasibmu.
Nah, kembali lagi ke cerita awal. Mencari cermin ternyata tidak mudah. Beberapa toko saya datangi, tapi tidak ada cermin kaya cerminku. Soalnya limited edition memang cerminku. Derasnya lagi hujan. Eh iya, pas di depannya Abdi Agung ceritanya lagi asyikka ngobrol sama NENNI, eh ternyata ada cowo’ yang memperhatikan.  Pas kulihat, ternyata cakep. Kayanya itu cowo mau kenalan. Hahahaha GR. Belum sempat kenalan (aduh siapa juga mau kenalan sama kau Isma), datang lagi cowo’ yang mukanya pas-pasan.ngajak kenalan, beeh, giliran yang tadi cakep dak ngajak kenalan. Yang ini pake acara minta nomor HP lagi. Yah saya kasi deh nmr HPnya tukang gallon yang biasa saya tempati mesan air gallon. Hehehe.biar tau rasa.
Ceritanya masih belum dapatkan ini cermin di Abdi Agung, di Top Mode juga sudahmii saya jelajahi, tapi dak ada. Nah dengan modal sotta’-sotta berhadiah, saya bilang ke Nenni, jalan ke kananki coba siapa tau ada penjual cermin di sana. Nah, masih dengan nasib yang sama, ternyata dak ada penjual cermin disana. Betul-betul cari cermin saja rempongnya minta ampun. Setelah jauh berjalan, akhirnya istrahatka di depannya jalan Bung. Tiba-tiba teringatka dengan temanku, ada yang tinggal di jalan Bung, tpi dak saya liat rumahnya. Daripada sia-sia perjalananku, mending bertamuka di rumahnya temanku.  Giliran mau saya telpon, eh ternyata dak saya bawa HPku. Huwah sial. Terpaksa haruska pulang dengan tangan kosong.

Jumat, 14 Januari 2011

Air mata Sang Langit

kini, kuhanya bisa menatap langit,
pujian kata syukur tak henti kuucap,
namun terkadang, aku tak mengerti
di balik rasa syukurku,
terkadang ada keluh ketika baris hujan membuatku tersenyum,
kakiku enggan melangkah
seperti tertahan sejuta baja,
dengan berat puluhan ton.

mengapa aku takut melangkah?
bukankah mata air ini adalah tanda kebahagiaan langit?
melihat betapa antusias penghuni bumi melakukan aktifitasnya,

atau mungkin mereka mereka bersedih,
melihat pertiwiku juga bersedih,
maka mereka teteskan air matanya agar pertiwiku tak lagi bersedih,
mung,kin mereka tau kalau pertiwi-ku senang bermain hujan,
tapi kuharap mereka juga tau bahwa pertiwi-ku tidak boleh bermain hujan begitu lama,
karena pertiwi-ku bisa sakit

Tetesan-Tetesan air

ini sudah hari ke-3 matahari enggan menampakkan parasnya,
sepertinya ia merasa nyaman di sana,
bersembunyi di balik awan gelap,
apa yang ada di benaknya?
apakah ia senang melihat jutaan jiwa kini hanya mengurung diri?

tetesan air ini adalah anugrah,
mengapa aku tidak mensyukurinya?
tidakkah ini membuat pertiwi-Q tersenyum,
mereka telah lama gersang,
kini jasadnya telah subuh tersiram tawa,
pertiwi-Q akan kembali hijau,
keindahan yang selalu dinantikan kelak akan semakin indah
ketika tetesan-tetesan air ini
tersihir menjadi jutaan warna di langit
membentuk pelangi kehidupan

sang PENGEMIS

Pemuda malang,
kau ulurkan tanganmu
seraya melantunkan nyanyian sedihmu
tanda kekalahan atas kehidupanmu,
meminta demi sesuap nasi
untuk perut kosongmu,

tiadakah pilihan hidup yang lebih baik?
mungkinkah meminta adalah tawaran terakhir dari bumimu?

kudekati lalu kutanya,
"mengapa tubuhmu yang kuat memiliki jiwa yang begitu lemah?"

pemuda itu menjawab:
ketika kucari pekerjaan,
mereka menolakku karena pakaianku compang camping,
ketika kubuka pintu sekolah,
mereka mengusirku karena tanganku kosong,
mereka memang orang berlimpah yang ta peduli dengan jiwa lemah seperti kami,

yah, terkadang hidup begitu kejam bagi mereka yang telah layu semangatnya,
mengemis adalah wujud keputusasaan mereka,
tubuhnya yang masih kuat melemah karena rasa lapar yang menggerogoti,
tapi mengemis lebih manusia ketimbang mencuri, membunuh, merampok
demi mendapat kebahagiaan dunia

terkadang jiwa-jiwa sok tahu melantunkan kata hina
"mereka kuat tetapi malas"
mereka bahkan tidak tau susahnya hidup
bagi para pengemis kehidupan,
mereka hanya pandai mencemoh,
mereka pun tak mampu memberikan pekerjaan untuk melepaskan kami dari lingkar derita,
ujarnya

terkadang,
sejak fajar muncul
hingga senja menyambut malam
tak sepeserpun yang mereka genggam,
telapak tangannya masih kosong,
layaknya perutnya yang masih belum tersentuh makanan
semenjak mereka duduk di trotoar jalan

sungguh malang nasibmu,
begitu pilu hidup yang kau jalani,
terbaring di pinggiran jalan dengan beberapa potongan kardus,
terkadang harus lari sana sini
ketika keamananmu diusik petugas,
ketika pemilik rumah mengusirmu dari teras rumahnya,
tak tau lagi dimana akan kau rebahkan tubuhmu yang tak berdaya,
pilu rasanya melihat mereka meneteskan air mata,
aku pun tak tau apa yang bisa ku lakukan untuk mereka,
aku masih sosok manusia yang baru mengerti hidup

Rabu, 12 Januari 2011

WAKTU...

Hampir semua orang mengatakan TIME IS MONEY. Tapi apa iya setiap waktu kita adalah uang?
Bukunya Awie Wang “RAHASIA SANG WAKTU” mengajarkan kita untuk tidak menerapkan istilah itu dalam kehidupan kita. Menerapkan istilah itu sama saja bahwa kita menjual semua waktu yang kita miliki. Dengan menjual waktu artinya menjual kehidupan kita. Saya lebih setuju kalimat ini “TIME IS LIFE”. Waktu adalah kehidupan. Pernah tidak kita membayangkan, orang yang menggunakan waktunya hanya untuk bekerja. Hidupnya akan selalu diliputi oleh kesibukan. Hanya kesibukan yang mereka rasakan, bahkan mereka tidak lagi mengenal indahnya kehidupan. Indahnya keluarga. Karena tidak sedikit dari mereka yang bekerja dari pagi dan pulangnya larut malam lupa akan keluarganya. Lupa akan kebahagiaan. Dipikiran mereka, mereka mencari uang untuk masa depannya, agar masa depannya bahagia. Pernahkah mereka berpikir, kapan mereka bahagia ketika semua waktunya hanya untuk uang, ketika mereka berhenti mengejar uang ketika berumur 60 tahun. Bukankah usia sekian kita sudah berbau tanah? Nah untuk masa depan bahagia seperti apa yang akan mereka rasakan dengan uang yang berlimpah di usia yang sudah berbau tanah. Menyia-nyiakan waktu berarti menyia-nyiakan kehidupan.
Sekarang atau nanti, waktu adalah penguasa tanpa batas. Waktu adalah kemutlakan. Apapun yang kita lakukan semuanya berhubungan dengan waktu. Jika tindakan anda sekarang tidak berpengaruh atau hanya berpengaruh kecil terhadap masa depan, naka tinggalkanlah tindakan itu dan mencari tindakan yang lebih berpengaruh terhadap masa depan, jangan membebani diri anda dengan tindakan yang tidak mempengaruhi masa depan anda.
Kebanyakan orang menyesal karna pada masa lampau dia tidak menggunakan waktunya dengan sebaik-baiknya. Masa lampau tidak perlu kita sesali. Masa lampau telah berlalu, kita tidak akan bisa mengubahnya, tetapi kita bisa mengubah masa depan kita.sekali lagi, kita tidak dapat mengubah masa lalu kita tetapi kita dapat mengubah masa depan kita.
ketika kakimu belum mampu untuk menggapainya,
yakinlah suatu saat nanti kamu pasti bisa ,
hanya mimpi yang membuat hidup ini bermakna. tanpa mimpi seseorang seperti hidup tanpa tujuan.
sebesar dan setinggi apapun mimpimu. hanya keyakinan dan ikhtiarmu yang menentukan hasilnya nanti.
ora @ labora.
ingat....!! jangan takut bermimpi, tak ada mimpi yang membunuh sang pemimpi
Terkadang tiap baris hujan membuat kita menjadi seorang melankolis. Terkadang juga barisan-barisan hujan membuat kita panik. Hujanpun sering membuat kita menangis. Tapi pagi ini hujan  membuat saya tertawa. Yah, pagi ini, meskipun hujan begitu deras namun saya tetap harus pulang ke kost-kostan. Ini karna tadi malam saya nginap di rumahnya Vivi. Kalo menunggu hujan redah mungkin saya tidak akan kembali ke kost-kostan.
Dengan payung besar jadul berwarna merah mudah bermotif bunga-bunga, saya  dan Vivi harus  menembus baris hujan  dari lampu merah kearah Pettarani menunggu pete-pete 07.  Malu stengah mati, tapi kupikir ini lucu. Vivi yang tadinya menolak untuk memakai payung itu akhirnya memutuskan untuk memabawanya karna hujan sangat tidak bersahabat. Siapa juga yang mau bawa payung jadul kemana-mana, sudah tidak bisa dilipat (itu loh, payung yang biasanya dijadikan tongkat sama nenek-nenek, yang gagangnya melengkung), warna merah mudah, motif bunga pula. Setidaknya bisa kami jadikan cerita lucu untuk anak-anak kami nanti. Hahahaha

Pas di atas pete-pete adalagi yang unik. Anak-anak pipinya tembeeeeeem skali. Lucu. Tapi entahlah itu penyakit atau asli tembem. Mau skali saya cubit tapi takut mamanya marah.lagian kalo mamanya tersinggung bagaimana?  Skali lagi hujan mengajarkanku merenungi setiap karunia Tuhan yang ada.


Rencana Tuhan siapa yang tau

Senja yang semakin merona membuatku menghargai setiap detik yang telah berlalu. Ketika sang fajar mulai terbit terkadang aku berpikir kemana akan kulangkahkan kaki ini? hal apa yang bisa kulakukan hari ini? Namun setiap pertanyaan itu akan terjawab tanpa kusadari. Tak ada rencana bukan berarti tak ada hal bermakna yang bisa dilakukan. Sesuatu bisa terjadi secara tiba-tiba.
Seperti hari ini. Pertemuan dengan Bang Gegen dalam acara holiday classnya Keluarga Komunikasi Unhas KOSMIK adalah tujuanku ke kampus. Senang bisa bertemu beliau. Brrrrrr, ingin rasanya seperti BG, pernah mengelilingi dunia. Yah, Ada banyak hal yang kudapat, bukan hanya pelajaran, namun juga motivasi. Satu hal yang paling saya ingat dari Bang Gegen, katanya “BARANG SIAPA INGAT HARI ESOK, MAKA HARUS MENERJANG HARI INI”. Iya, itu benar. Ketika kita mengingat akan hari esok, pastilah hari ini kita harus mulai bertindak. Apa yang kita dapat di hari esok adalah buah dari apa yang kita lakukan hari ini. Artinya apa? Kerja keras kita hari ini adalah keberhasilan kita di hari esok. Sudahkah kita memikirkan hari esok? Jika “IYA”, lakukanlah yang terbaik hari ini.
Tadinya rencanaku hanya sekedar menghadiri pertemuan dengan salah satu petinggi KOSMIK. Setelah itu langsung pulang. Tiba-tiba vivi ngajak jalan, ya sudah saya ikut saja. lagian di kost-kostan juga sepi. Akhirnya kami masuk ke sebuah toko buku. Tanpa terasa waktu semakin berlalu, Cuma mau milih satu buku saja sampai dua stengah jam. Kenapa karena banyaknya pilihan yang ada disini. Kebetulan saya mencari bukunya KHARIL ANWAR, Vivi juga ternyata mencari buku yang sama. Nah, karena buku karangan Khairil Anwar bukan hanya satu, makanya saya pusing mau pilih yang mana. Memang terkadang memilih itu sulit. Tapi, HIDUP ADALAH PILIHAN. Setiap saat kita akan selalu dihadapkan dengan yang namanya “PILIHAN”. Nah pandai-pandailah untuk memilih apa yangb seharusnya kamu pilih.
Pas mau pulang, tiba-tiba hujan deras. Ya ampun dak mungkin saya balik ke kost-kosan dalam keadaan hujan deras kaya gini. Akhirnya Vivi bilang saya nginap di rumahnya saja soalnya jalan masuk ke SAHABAT agak jauh lagian juga sudah malam. Ya sudah saya nginap di rumahnya Vivi. Lagi-lagi ini di luar rencana. Memang yah, hidup itu penuh dengan teka-teki. Siapa yang tau rencana Tuhan di masa depan kita bagaimana.