Jumat, 07 Desember 2012

Senyum Senja

           Tawanya melenting. Ini adalah yang kesekian kalinya. Sedari tadi semenjak kami yang sedang tak punya kesibukan berkumpul di tempat ini tawanyalah yang paling terdengar jelas di antara kami. Bahkan hal yang tak lucu menurut kami pun ia tertawai sejadi-jadinya, begitulah ia setiap hari. Di tempat ini, tempat yang paling sering menjadi tempat bertengger tiap kali tak ada kuliah. Tempat yang kami gunakan hanya untuk sekedar ngalor ngibul bersama teman-teman. Tempat yang menjadi saksi betapa telah tercipta kebersamaan yang begitu lekat diiringi canda tawa di antara kami, juga saksi betapa ceria teman wanita kami yang satu ini. Aish. Begitulah ia mengisi hari-harinya.

Ini bukanlah awal cerita di antara kami. Kukenal ia sejak duduk di bangku SMA dulu, tahun ini adalah tahun keenam kami bersama. Kebiasaan untuk tertawa seperti itu barulah kusadari sejak dua tahun terakhir ini. Entah apa yang membuatnya begitu geli dengan cerita-cerita teman ataupun senior-senior kami yang kadang hampir semua orang menilainya tak lucu. Di SMA dahulu kukenal ia adalah seorang yang jarang berbicara. Wataknya keras, begitulah yang kutahu meskipun kami tak begitu dekat saat itu, namun sekelas selama tiga tahun dengannya cukuplah untuk memberikan penilaian terhadapnya. Dan kini program studi Komunikasi telah mempertemukan kami kembali. Beginilah Aish dua tahun belakangan. Mungkin orang yang tak betul-betul mengenalnya akan mengatakan ia tak punya selera humor, apapun ia tertawakan. Bahkan jika ingin tak dikatai garing, meluculah di depan Aish maka tak ada leluconmu satupun yang akan dinilai garing olehnya.

Kamis, 06 Desember 2012

Kelak Suatu Saat Kau akan Bercerita Tentang Hari Ini, Tentang suatu Hari di Tangga Seribu : Part 2

Air Terjun Bulan, 2 desember 2012


Kuharap ini menjadi yang pertama sekaligus terakhir aku menginjakkan kaki di Air Terjun Bulan ini. Bukan karena aku tak mau lagi melihat keindahannya, Hanya saja seribu anak tangga itu, oh begitu panjang dan terjal. Selalu ada kekhawatiran untuk setiap langkah. Bagaimana jika ada yang terkilir? Bagaimana jika kaki-kaki mereka keram dan tak bisa melanjutkan perjalanan? Bagaimana jika ada yang terpeleset? bagaimana jika ada yang pingsan karena kecapean? Bagaimana jika ada di antara mereka yang berpenyakit asma dan tiba-tiba kambuh tanpa ada obat yang bisa digunakan? Bagaimana jika.................
Ah, untung saja semua itu tidak terjadi dalam perjalanan kami, perjalanan panjang di seribu anak tangga. Tapi tunggu, ini belum berakhir, aku masih belum bisa menanggalkan kecemasanku. Masih ada perjalanan pulang, kita akan kembali melewati seribu anak tangga itu, dan kali ini kita akan mendaki. Oh tak bisa kubayangkan.

Rabu, 05 Desember 2012

Kelak Suatu Saat Kau akan Bercerita Tentang Hari Ini, Tentang suatu Hari di Tangga Seribu

Malino, Dini Hari. TOWR IV FLP Unhas

Jarum jam kini menunjukkan detik awal di hari yang baru. Gigil menusuk tulang.  Lelah tak menjadi  alasan untuk kami bisa merebahkan badan di pembaringan. Dini hari menjamu kami  dalam sebuah lingkaran kecil untuk bisa membicarakan sebuah rahasia. Yah aku menyebut ini rahasia. Rahasia untuk sebuah perubahan rencana.
Sempat terlintas dalam benak, betapa  nyamannya meringkuk dalam selimut tebal . Hanya saja, bukan itu yang akan kami lakukan. Kami sedang dalam misi menyusun rencana baru untuk calon anggota baru keluarga kami.
Jumlah kami lumayan terbatas, aku bersama dua orang panitia perempuan lainnya beserta  8 orang panitia laki-laki duduk dalam sebuah lingkaran kecil.mereka Adalah Nunu’, Wina, Memet, Ahmad cekidot, Batara, Oci’, K’jum, k’Tajrim, Aris, dan juga Ashar. Tepat di halaman depan tempat penginapan peserta laki-laki.  Semilir angin kadang mengundang ketakutan bagiku. Namun kucoba untuk tidak menghiraukan hal-hal  yang tidak perlu untuk dipikirkan.
Perubahan rencana itu pun mulai kami diskusikan… dan…………….
……………………………..Bla,,,,,, bla,,,,bla,,,,,,,blaaaaaaaaaaa………………………..

Senin, 03 Desember 2012

Gara-gara Printer

Masih teringat raut wajah teman-temanku malam itu. Malam syahdu nan mengharukan. Malam itu adalah H-1 kegiatan penyambutan mahasiswa baru di universitas kami, Universitas Fajar Menyingsing. Entahlah aku ingin menyesali kebiasaanku menunda-nunda waktu atau malah bersyukur. Di satu sisi, aku memang bersyukur bisa menghabiskan malam dengan teman-teman seorganisasiku, ritual ini memang jarang kami lakukan. Namun di sisi lain, ini membuat kerjaan serba terburu-buru dan akhirnya tak beres. Beberapa hari sebelum hari H aku seharusnya sudah menyiapkan printer yang akan dipakai untuk mencetak leaflet yang telah kubuat untuk acara itu. Kuandalkan printer salah satu temanku. Ternyata bena-benar salah, dia pun menggunakan printernya dalam kegiatan yang sama, hanya saja dia tak seorganisasi denganku.
H-1 kuhubungi temanku itu, sebut saja namanya Tukiyem. Kuminta iya meminjamkan printernya padaku karena printer milik organisasiku sedang rusak. Sudah kurencanakan untuk menyelesaikan cetakan leaflet sejumlah 500 eksamplar itu sendirian. Sayang sepuluh sayang seperti yang kukatakan Tukiyem menggunakan printernya. Kutelpon satu persatu teman-temanku yang kuperkirakan memiliki printer. Lagi, sayang seratus sayang, Sumantri yang seharusnya bisa meminjamkan printernya ternyata masih di kampung halamannya menikmati liburan. Dia malah menyarankan aku ke tukang printer saja lalu foto copy, dan itu sama sekali takkan kulakukan. Itu sama saja menyerah.
            Hampirlah aku menangis, Santoso, Markona, Ambo Dalle, Sannero, atau pun Nahorang, tak satupun yang memiliki printer. Begitu pula saat kutelpon Limang, Jumrang, Bintang, Rustang. Satu lagi, Jihan, entahlah mungkin namanya Jihang seperti yang lainnya. Maklumlah dengan dialek orang Makassar, sampai-sampai dialeknya terikut pada saat pemberian nama pada anaknya.

Angka Sama Untuk 3 Orang berbeda

            Mungkin saya adalah salah satu dari sekian banyaknya orang yang tidak percaya dengan sebuah kebetulan. Dari A-Z, saya percaya selalu ada rencana dibalik semuanya. Menurutku itu bagus, tapi kadang-kadang saya merasa konyol dengan alasan itu.
Anggap saja hari ini saya sedang konyol. Tanpa sengaja kubuka sebuah profil di salah satu situs pertemananku. Hanya sekedar untuk memuaskan rasa penasaranku. Terjeratlah mataku di depan sebuah angka. Angka itu. Bisakah saya menghindarinya? Melihat angka itu akan selalu mengingatkanku dengan masa lalu. Meskipun sampai saat ini saya masih belum yakin bahwa itu adalah masa lalu .
Kejadian yang sama pernah terjadi saat saya sedang dekat dengan seseorang. lagi-lagi kubuka profil disitus pertemananku dengannya. Juga dengan angka yang sama. Bencikah saya dengan angka itu? atau mungkin saya terlampau takut dengan ingatan lama?
Toh ujung-ujungnya satu orang itulah yang kemudian hadir diingatanku. Lalu masih belum percayakah saya dengan sebuah kebetulan? Sepertinya MASIH. Hanya saja saya tak perlu bertahan dengan kekonyolan itu.


Minggu, 02 Desember 2012

Mungkin Besok


           Jika bukan kemarin atau hari ini, mungkin besok atau besoknya lagi kau akan bertemu dengan orang sepertinya. Tak mengerti kau membencinya, ia selalu saja datang dengan senyum kebohongan.
Jika bukan kemarin atau hari ini, mungkin besok atau besoknya lagi kau akan bertemu dengan orang sepertinya. Kau tak mampu menggambarkan rasa itu. Bahagia saat ia datang. Kau sambut senyumnya juga dengan senyuman, bahkan matamu kerap kali bertegur sapa dengan matanya. Tanpa rasa bosan. Mungkin kau malu, ia pun malu. Namun rasa malu itu hanya akan membuatmu tersenyum.
Jika bukan kemarin atau hari ini, mungkin besok atau besoknya lagi kau akan bertemu dengan orang sepertinya. Ia kerap menatapmu, menunggu kau tersenyum padanya. Mungkin kau tak sadar, namun ia begitu bahagia melihatmu. Dan saat ia melihatmu dengan yang lain, hatinya menciut. Mungkin ia cemburu, namun ia tak berani mengiyakan kecemburuan itu. Skali lagi mungkin kau tak sadar.
Jika bukan kemarin atau hari ini, mungkin besok atau besoknya lagi kau akan bertemu dengan orang sepertinya. Tak sadar kau telah lama menatapnya, meneliti setiap geriknya. Menunggunya tersenyum padamu. Hanya kau yang tau, kau selalu menunggu senyum itu. Namun, dalam waktu yang sama ternyata ia menunggu senyum lain, dan itu bukan senyummu. Tentu saja kau tak bisa apa-apa. Saat kau tau, mungkin kau hanya bisa tersenyum kecut.
Namun waktu tak pernah berhenti, ada banyak orang yang akan kau temui, begitu pun ia. Hal yang sama mungkin saja akan terulang, begitupun rasa itu. dan perlahan, tanpa kau sadari semuanya menjadi pudar dimakan waktu.  

Jumat, 26 Oktober 2012

If Only




Mungkin setiap orang pernah merasa De javu. Dihadapkan dengan sebuah keadaan yang persis sama dengan apa yang dialami di alam mimpinya. Lalu apa yang akan anda lakukan jika mimpi itu adalah mimpi buruk? Mimpi yang membawa Anda dalam sebuah ketakutan yang besar. Ketakutan untuk kehilangan seseorang yang sangat dicintai.
Hal inilah yang dialami Ian Wyndham (Paul nicholls), seorang businessman yang sangat mencintai pekerjaannya. Ian yang menetap di London memiliki seorang kekasih yang sangat dicintainya. Gadis itu bernama Samantha Andrew (Jennifer Love Hewit), gadis manis berdarah Amerika yang menetap di London sejak berumur tiga tahun untuk sekolah musiknya. Ian sampai tak menyadari betapa ia mencintai gadis itu, terkadang ia lebih mementingkan pekerjaannya dibandingkan kekasihnya. Ian baru menyadari betapa ia mencintai Samantha saat ia mengalami sebuah mimpi yang teramat buruk. Mimpi tentang meninggalnya Samantha.

Kamis, 20 September 2012

Kenalkan Aku "Sahabat"



Jika seandainya Tuhan memberikan kesempatan untuk kembali ke masa lalu, maka aku tidak akan pernah memilih masa kecilku

Mungkin untuk kebanyakan orang di luar sana, masa kecil adalah masa indah yang selalu ingin dirasakan kembali. Bersekolah, Bermain, bersepeda, tertawa cekikikan, berlari, berlompat, bahkan menari bersama teman-teman. Menyenangkan. Sungguh menyenangkan. Tapi itu bagi kalian dan mereka. Tidak bagiku. Aku membenci masa kecilku.
Cerita ini bermula saat aku berumur tujuh tahun. Pekerjaan ayah membuat kami sekeluarga harus berpindah ke tempat ini. Ya, kami sekeluarga. Aku, ayah, dan ibu. Meninggalkan teman-temanku dan keluarga-keluarga lainnya. Tempat asing ini merenggut semuanya. Sepi.
Saat itu statusku adalah murid baru di kelas dua. Kuharap sekolah dan teman-temanku bisa membuatku bahagia. Ternyata tidak. Sekolah ini bahkan seperti neraka bagiku. Aku perempuan kecil yang kesepian. Kukira hal seperti ini hanya terjadi di film-film yang sering kutonton. Mereka semua tidak menyukaiku. Sejak awal menginjakkan kaki di sekolah, teman-temanku tak menganggapku bagian dari mereka. atau memang mereka tak pantas kusebut teman? Bukankah mereka tak pernah baik kepada? Aku membenci mereka. atau mungkin lebih tepatnya merekalah yang membenciku?
Sekali lagi, kelas ini neraka bagiku. Sudah setahun bersama mereka, tak ada satupun yang mau bermain denganku. Tak seorang pun. Bahkan di saat aku terjatuh, tak ada seorang pun yang datang menolongku. Saat menangis tak ada seorang pun yang menanyakan kenapa aku menangis. Aku ingin berlari dan berteriak. Tapi aku hanya perempuan kecil yang tak bisa apa-apa.

Rabu, 11 Juli 2012

Cerita "Mengawali Hari di Pare-Kediri"



Hi, guys... Now i’m in Pare, in Language Village. Since 7 July. why? Because i “must” speak English fluently. Bahasa inggrisku yang berantakan memaksa saya untuk belajar di sini. Tau Pare dari beberapa temanku dan search di internet.  Jauh sebelum ke Pare, saya memang mencari tahu banyak hal tentang Pare. Bukan banyak hal, tapi hal umum tentang kampung bahasa ini. Salah satu informasi yang saya dapat adalah tentang minimnya kendaraan umum, sehingga Pare ini dikenal seperti Jogja dengan berkendaraan dengan sepeda jika memang jaraknya masih mampu dijangkau dengan sepeda.
                Mendengar informasi tentang sepeda ini, rasanya saya terbayang-bayang masa kecil. Bersepeda memang hal yang paling kusukai saat masih kecil. Saking sukanya, pulang sekolah, saya bahkan lupa makan siang hanya untuk bermain sepeda. Just changing clothes and go to bicycling... (so’ kebarat-baratan skrg, padahal baru sekali masuk kelasnya.)
                Dan memang benar di Pare ternyata berhamburan tempat untuk menyewa sepeda. Hari minggunya, exactly on 8 July, saya menyewa sepeda “evergreen” berwarna biru untuk digunakan selama sebulan di Pare. Semacam sepeda ontel modern.

Selasa, 03 Juli 2012

Untuk Orang-Orang yang Mem-Benci


Beberapa waktu lalu sempat kubaca beberapa judul dari Buku “Catatan mahasiswa biasa” Fitrawan Umar (jangan GR k’wawan). Maaf, Ini tentang Maaf, demikian judul tulisan itu. Belum sempat menyelesaikan bacaan itu, aku kemudian teringat beberapa orang yang sempat kuvonis “benci padanya”.
            Ada alasan untuk setiap mereka yang telah berbuat salah sehingga tak mau kumaafkan. Ya, menurutku mereka salah, kesalahan yang teramat fatal yang menjadikanku benci saat itu, saat rasa benci itu mulai tumbuh dan sampai sebelum cacatan-catatan itu menyadarkanku.
            Kata maaf dalam AlQuran menurut Qurays Shihab berarti ‘menghapus’. Karena memaafkan berarti menghapus luka-luka di hati. Karena luka masih tersisa walau sedikit di hati. Apabila luka masih tersisa walau sedikit di hati dan bara dendam masih menyala walau secuil, belumlah seseorang dikatakan memaafkan. Tahap seperti itu masih disebut menhan amarah.
            Paragraf inilah yang membuatku teringat pada beberapa orang. Kuakui, sudah sejak lama kukatakan padanya bahwa ia sudah kumaafkan. Namun, ternyata luka dihati masih tersisa bahkan bara dendam pun masih ada.

Selasa, 26 Juni 2012

Miris

yang kiri sampah basah..
yang kanan sampah kering..
yang di tanah itu sampah apa yah? 
apa iya itu sampah masyarakat???

Senin, 25 Juni 2012

Mata Sendu itu


Senja di cakrawala semakin merona. Guratan indah itu tak mampu membantuku menemukan taman indah dalam setiap langkahku. Kucoba menelusuri rintihan jiwa yang telah lama hilang, mencoba menguak senyum yang telah lama sirna. Namun, tak setegar harapku, hatiku selalu rapuh. Asa yang kutanam kini telah mati, tiada lagi mata sendu yang menyiraminya ketika mulai layu. Perlahan semakin layu, layu, kemudian tak lagi bernyawa.
Mata sendu itu enggan menatapku lagi. Bagaimana bisa dia menatapku, kalau mata itu kini telah menjadi kenangan, sekedar ingatan dalam benakku. Aku selalu merindukannya, tak ada yang bisa menggantikannya, bukan hanya sendu matanya, tapi siraman kasih sayangnya yang selalu menyirami taman indah dalam jiwaku. Sudah lama aku ingin menanam benih-benih keindahan itu kembali, tapi tetap saja aku tak bisa merawatnya. Sekali layu, tak ada lagi harapan untuk bisa bangkit.
Mata sendu itu tak mungkin lagi menatapku, menyirami hariku dengan kasih sayangnya. Tangan lembutnya pun tak mungkin lagi membelai rambutku, mengusap air mataku. Tak mungkin lagi aku memeluk dan terlelap dipangkuannya.

Julia dan Luna

Kamar ini tak lagi seperti sebuah kamar mahasiswa normal. Sepertinya lebih cocok menggambarkan anak berandalan yang sama sekali tidak peduli dengan estetika. Awalnya kamarku selalu rapi, bersih, dan juga wangi. Namun sekarang sangat jauh berbeda dengan hari-hari sebelum aku mengenal kedua temanku ini, Julia dan Luna. Dua buah helm miliknya, tas dan pakaian berserakan dimana-mana, gelas dan piring berantakan, puntung rokok bertumpuk dalam asbak, dan juga asap mengepul dimana-mana.
Meskipun mereka hampir tiap hari membuat kamarku ini berantakan aku sama sekali tak pernah melarangnya untuk datang. Sehabis kuliah mereka kerap kali beristirahat di kamarku. Tak pernah kurang dari dua bungkus rokok berisikan 32 batang mereka habiskan dalam waktu 5 jam. Mereka bukan tak punya orang tua, tapi tak ada perhatian dari kedua orang tuanya. Aku mengerti apa yang membuat Julia seperti ini. Dalam sehari dia bahkan tak sempat mengucap sepatah katapun kepada orang tuanya. Ayah dan ibunya sangat sibuk dengan perusahan mereka. Mereka sering kali pulang ketika Julia sudah tertidur pulas. Padahal Julia sangat merindukan kasih sayang orang tuanya. Tapi mana sempat ayah dan ibunya mengabulkannya. Ketika Julia bangun pagi, ayah dan ibunya sudah tak berada di rumah lagi. Tak heran kalau kelakuan anaknya di luar sana tak sedikitpun dia ketahui.
Berbeda dengan Luna yang memang berlatar belakang broken home. Sejak kedua orang tuanya berpisah dia mulai bergaul dengan teman-teman berandalannya. Tapi semenjak mereka sering mampir ke kamarku, tak pernah lagi dia bertemu dengan teman-temannya.

Rabu, 02 Mei 2012

Sayang, Kamu Orang Kecil


Wajahnya merah padam, mungkin sebentar lagi meledak. Pandangannya begitu tajam ke arah pria yang tengah menundukkan pandangannya itu.
“Keluar dari ruangan saya, kamu sudah berani memancing emosi saya.”
Dilemparkannya sejumlah kertas beserta map merah ke arah pria itu. Di Bagian depan map bertuliskan namanya. Praditya Mahardika. Seorang Mahasiswa Kehutanan di universitas kecil ini.  Universitas Kecil, tapi lumayan besar songongnya orang-orang di dalamnya. Ia tak habis pikir universitas sekecil ini saja, kebobrokannya luar biasa, bagaimana dengan universitas yang jauh lebih besar di luar sana. Selama menginjakkan kaki di kampus kecil ini, belum pernah satupun ia menemukan seorang birokrat kampus dengan sesungging senyumnya. Sombongnya minta ampun. Jangankan tersenyum, menjawab pertanyaan mahasiswa pun tak pernah ramah. Apa memang ada pelatihan kepribadian antagonis untuk setiap birokrat di kampus ini? Begitu pikirnya tiap kali bertatap muka dengan birokrat-birokrat kampusnya.
Mahardika memang salah seorang aktivis kampus. Banyaknya kegiatan yang telah dilaluinya selama dua tahun menjadikannya kebal dengan ocehan-ocehan dan ketidakramahan mereka. tapi kali hatinya benar-benar teriris, tak pernah sekalipun seseorang memperlakukannya serendah apa yang dilakukan ibu berjilbab yang ada di depannya detik ini. Lembaran-lembaran kertas ini menjadi bagian dari sejarah kehidupannya. Seandainya bukan karena orang tuanya, ia tak akan pernah mengemis pada wanita berjilbab nan sombong ini.

Senin, 30 April 2012

Cinta itu adalah Pilihan

Siapa yang tak menginginkan pria seperti dia. Baik hati, sabar, setia, bersahaja, perasa, penyayang, pengertian, tak banyak bicara namun tepat sasaran. Sungguh beruntung wanita yang disayangnya. Namanya Reihan Prasetyo. Orang-orang memanggilnya Rei. Dia adalah pria pertama yang kuacungi jempol atas sifatnya. Belum pernah aku melihat sifat buruknya selama 5 tahun aku mengenalnya. Bukan aku yang jatuh cinta padanya, tapi temanku. Namanya Oca’. Aku hanya mengagumi sifatnya, kelak aku berharap masih ada pria lain yang seperti dia di dunia ini yang menjadi pendampingku.
                Malam ini pria ini ada di depanku, bercerita tentang kisah cintanya sejak 5 tahun lalu bersama dengan wanita yang dari dulu dicintainya. Yah, tak salah lagi. Wanita itu adalah Oca’. sudah sejak lama Rei jatuh hati kepada Oca’. sejak awal kami mengenyam bangku SMA. Aku, Oca’, dan juga Rei pernah berada dalam kelas yang sama. Dari gerak geriknya, aku menangkap simpati dimata Rei pada Oca’ dan kurasa lama kelamaan rasa itu berubah menjadi perasaan yang kuat. Sampai suatu hari aku pernah menemukan sejumlah foto Oca’ di handpone Rei. Persis seperti pengagum rahasia dalam FTV. Selidik demi selidik ternyata benar, Rei jatuh hati pada Oca’. Tapi dasar Oca’ orangnya tidak peka, jadi ia cuek-cuek saja.
                Suatu hari Rei menyatakan perasaan itu pada Oca’. waktu itu kami masih di kelas 1 SMA. Memang Oca’ punya prinsip untuk tidak pacaran dulu. Akhirnya Rei hanya bisa memendam perasaannya. Beberapa kali ia menyatakan perasaannya, namun lagi-lagi Oca’ menolaknya. Baru pada saat kami duduk di bangku kelas 3, barulah Oca’ menerima Rei menjadi pacarnya. Sungguh indah dipandang mata. Aku menyukai gaya mereka pacaran yang tak seperti remaja kebanyakan. Bahkan orang tua mereka sama-sama saling mengetahui hubungan mereka, sehingga Rei dipercaya oleh ibunya Oca’ untuk selalu menjaga Oca’.

Selasa, 24 April 2012

Sepotong Bronis Coklat


Hari hampir petang, sedikit lagi matahari lelap dalam peraduannya. Barisan garis jingga nampak elok memandangi nasib seorang wanita tua yang sedari tadi duduk manis di koridor kampusku. ini bukan pertama kalinya kulihat wanita tua itu. Wajah teduh dengan garis umur di wajahnya menambah pilu tatkala tiap hari ia harus menapaki sepanjang koridor kampusku. Kuperkirakan umurnya sekitar 70an keatas. Seperti orang berumur kebanyakan, postur tubuhnya tak lagi tegap. Jalannya pun sudah terlihat berat. Beban umur mungkin. Satu hal yang kusuka darinya, senyum selalu mekar di wajahnya.
Dari kejauhan kupandangi ia tengah merapikan sejumlah uang kertas yang kebanyakan uang seribuan. Sesekali, ia mengelus gulungan rambut putih keritingnya kemudian kembali menghitung uang yang dipegangnya. Mungkin ia lupa jumlah yang telah dihitungnya. Kulihat ia mengulang hitungannya selama tiga kali. Tak salah lagi, uang-uang itu adalah hasil jualan kue seharian.
Hari semakin petang, angin dingin berhembus kencang. Lalu lalang mahasiswa pun semakin berkurang. Sayangnya rintik hujan mulai menyapa. Padahal cuaca nampak aman-aman saja.  Kuurungkan niat untuk pulang, lalu perlahan kudekati wanita tua itu. kulihat di kotak kuenya, masih tersisa dua potong kue bronis coklat. Kusodorkan dua lembar uang kertas dua ribuan lalu kumakan kedua potong kue itu.

Selasa, 03 April 2012

Belajar dari Negeri Nihon

taken from google


Beberapa hari lalu saya membaca sebuah artikel di salah satu Koran online yang mengatakan bahwa minat baca masyarakat Indonesia masih sangat rendah. Menurut menteri bidang kesejahteraan rakyat H.R. Agung Laksono, persentase minat baca masyarakat Indonesia hanya sebesar 0,01 persen. Artinya dalam 10.000 orang hanya 1 orang saja yang memiliki minat baca.
Konon, di berbagai literatur banyak dijelaskan bahwa rendahnya minat baca masyarakat Indonesia disebabkan oleh banyak hal. Di antaranya sistem pembelajaran belum membuat siswa ataupun mahasiswa harus membaca buku lebih banyak dari apa yang diajarkan dan mencari informasi atau pengetahuan lebih dari apa yang diajarkan; internet yang seharusnya mampu membawa dampak peningkatan minat baca ternyata tidak pada perannya, ternyata malah disalahgunakan karena sifatnya yang visual; banyaknya hiburan TV dan permainan di rumah ataupun di luar rumah yang membuat perhatian anak ataupun orang dewasa untuk menjauhi buku; banyaknya tempat-tempat hiburan seperti taman rekreasi, karaoke, mall, supermarket, dan lain-lain;, buku dirasakan masih sangat mahal dan begitu juga jumlah perpustakaan masih sedikit dibandingkan dengan jumlah penduduk yang ada dan kadang-kadang letaknya jauh, serta masih banyak lagi alasan mulai dari A sampai Z yang dijadikan alasan rendahnya minat baca di Indonesia.

Sabtu, 31 Maret 2012

Habis Ikutan Seleksi PPAN

peserta seleksi tahap 2 hari kedua 29 Maret 2012


Sayaaa,,, saya punya ceritaaa... ceritanya kaya gini...
Jadiiii,, kemarin itu, saya habis ikutan seleksi PPAN (Pertukaran Pemuda Antar Negara), sekalian berbagi informasi juga sih sebenarnya...
Tanggal 25 maret kemarin, dengan modal selembar kertas, saya mengikuti tahap 1 seleksi tersebut. Ada 2 tes di tahap 1 ini. Yang pertama tes wawancara, kemudian yang kedua tes writing. Nah, dari kedua ini, saya sadar kalo ternyata kemampuan english speaking saya itu masih sangat belepotan tapi tetap saja kuPDkan diriku untuk itu seleksi itu. Niatnya sih mau cari-cari pengalaman dulu, biar di kesempatan berikutnya bisa lebih siap, tapi alhamdulillah subhananllah allahuakbar juga kalo lulus.
<Catatan semua tesnya menggunakan bahasa Inggris..>
Nnaaaaah, 2 hari setelah tes, kucek pengumuman tahap 2 itu, eh nyatanya saya lulus juga. Well mesti siap-siap nih buat tes tahap 2 yang super duper total mestinya. Tapi karna seleksinya tinggal 2 hari lagi, saya jadi bingung mau latihan apa buat tes bakatnya. Belum terpikirkan sama sekali. Minus 1 hari sebelum hari tes kuniatkan untuk latihan menari, tapi dasar saya tdak punya pengalaman dalam hal nari menari, ya sudah modal latihan setengah hari mana cukup. Kuurungkan niat untuk menari. Kalo begitu antara menyanyi dan puisi. Pilihan yang sangat pas-pasan. Puisisnya sih sudah ada, cuman untuk mendeklamasikannya butuh dua tahunan belajar mngkin.... hohoho. Akhirnya menyanyi adalah satu2nya pilihanku di detik2 terakhir, niatnya sih mau latihan main gitar, kan kunci-kunci dasar sudah saya tau, nah lagunya kan tinggal dimasuk-masukin saja... tapi sayang seribu sayang, tak ada sepotong gitar pun yang bisa saya gunakan untuk latihan. Ya sudah menyanyi saja deh, tanpa iringan musik.. (dalam hati, mungkin sebaiknya saya bawa garam ke tmpat tes)
Esoknya...
Pagi yang cerah, stengah 8 menuju dinas pendidikan depannya Pasar Mode, sampingnya Dispora.. deng, saya dapatnya nomor registrasi ke6, artinya saya tampil ke enam.. benar-benar dengan modal bawa diri dan semangat juang yang tinggi saya memasuki ruangan tes dengan tatanan meja dan kursi berbentuk huruf U. Di depan ada meja panjang tempat juri berkomentar ria. Disana terpampang 3 kertas bertuliskan KEPRIBADIAN, BAHASA INGGRIS, SENI BUDAYA. Artinya apa? Sekali tampil, 3 penilaian disana. Nah satu tes lagi ada di ruangan berbeda, yaitu tes pengetahuan umum. Sekedar catatan, di tes pengetahuan umum, setidaknya kita tau tempat-tempat atau ruamh adat yang ada di Indonesia, paling minimal di sulawesi selatan sendiri. Karena di tes kemarin saya dikasih 2 gambar kemudian ditanya apa nama dari gambar yang ditunjukkan. Begitu.
Nah, kalo dibagian tes bakat dan sebagainya itu, kudu bisa mengendalikan nervousnya. Dan kuncinya jangan sampai minder gara-gara persiapan peserta lain yang betul-betul maksimal..
Saya sih masih untung kemarin, tidak minder meskipun pas-pasan dan juga tidak sempat bawa garam, tapi sayang nervous abis. Huuuuh. Yang pasti nervous nya  sampai mengganggu jalannya tes.  nervous itu sah-sah saja jeng. Tapi jangan sampai nervous bikin kamu sampai pingsan dan tidak jadi tampil.
            Jadi begituuuu,,,
           Sekarang tinggal tunggu pengumuman, kalo lulus alhamdulillah subhanallah allahu akbar. Kalo ga lulus, yah dicoba lagi nanti... ada banyak kesempatan di luar sana, kita mesti manfaatkan kesempatan itu teman-teman.. ini saya lagi usaha-usaha dan cari-cari kesempatan. Doakan yah. Target utama mesti diwujudkan... sssssttt...


Selasa, 27 Maret 2012

Surat Buat K' Alien Tampan

Dear k' Alien tampan..

K' alien, makasih template blogku sudah diganti...  kakak yang satu ini memang paling baik sedunia. saya suka paper-papernya itu.. oh iya janjinya mau dikasi awan.. konsepnya kan langit... biar hari-hariku semakin cerah.. ohohoho....

untuk menepati janji akhirnya saya mostingmii lagi toh k"... yah setidaknya saya senang, gembira, bahagia, berbunga-bunga seperti templatenya karena ada yang bersusah-susah buatkan template biar saya rajin nulis lagi.. jadi terharu...

ngemeng-ngemeng, ganti tempalte saja sekarang sudah saya lupa, kapan-kapan saya mminta diajar lagi deh, saking jarangnyami saya buka blog kasian.. dan gara-gara mata kuliah cyber media, makin banyak akun yang kubuat, semoga akun lainnya tidak menjadikan cermin jiwa ini terdua-tigakan...

skali lagi makasih k" Alien Tampan,,, barusanka ini ikhlas bilangiki tampan,,, soalnya baik hatiki bela, apalagi kalo ditraktir makan sate pas lagi nda puasa tapi....

sekian dan terima kasih, insya Allah bakal sering-seringmii lagi mosting,, tapi awannya masih saya tunggu kk"... :)