Minggu, 18 September 2011

Kisah apes Bulukumba-Makassar

saya punya cerita. cerita saya ini sewaktu saya dalam perjalanan balik ke makassar. ceritanya saya habis pulang kampung, jadi balik lagi ke kota. kalo bisa dibilang, ini adalah perjalanan buruk saya. nah begini ceritanya.
hari itu, hari minggu, besoknya kan hari senin (jelas). nah, hari senin itu, sudah mulai kuliah perdana lagi, kalo tidak salah tanggal 5 september kemarin. kita kembali lagi ke hai minggu tadi. hari minggu saya menelpon supir makassar yang mobilnya sering saya tumpangi tiap balik ke Makassar. 2 hari sebelumnya, sebenarnya saya sudah menelpon om supir, karna rencanyanya saya balik ke Makassar hari sabtu, eh kasian, saya telat, mobilnya full penumpang. akhirnya saya mencoba menelpon supir yang lain. beberapa lah. cek per cek semua mobil makassar yang sudah saya telpon ternyata full semua, karna memang lagi musim pulkam. walhasil ada salah satu supir yang menjanjikan kursi mobilnya di hari minggu. ya fix. z berangkat hari sabtu.
 sejauh ini masih aman-aman saja.
hari minggu akhirnya tiba. semuanya beres. tinggal berangkatnya. pakaian rapi sudah saya kenakan sejak jam 4 sore, karna biasanya si mobil datang menjemput pada jam 5. saking semangatnya, semua barang-barang saya. saya sudah saya keluarkan. siap angkut ceritanya. detik demi detik berlalu, serasa tak ada habisnya. sudah jam 5 om supir belum juga datang. saya telpon, eh tidak aktif. waduh, saya mulai ragu, jangan-jangan om supir lupa kalau saya menunggu kedatangannya. 
lagi, waktu demi waktu terus bergulir. dan.... 1 jam kemudian. om supir belum juga datang. di telpon tidak aktif lgi. saya hanya bisa bersabar sekarang, mungkin sudah takdir, saya tidak bisa mengikuti kuliah perdana. 
jarum jam akhirnya mendekati pukul 7. waaaah, om supir belum juga datang. jengkel. kasih kabar ke' kalo tidak bisa jemput, jangan diam tanpa kata dong, kaya lagunya d'masiv. 
tiba-tiba klakson mobil terdengar dari luar sana, eh itu dia om supir. maaf sudah  berpikir yang tidak-tidak. tapi menunggu itu benar-benar menguji emosi seseorang.
tak hanya sebatas itu, teryata apesku semakin menjadi.
keapesan selanjutnya,,, pas buka pintunya mobil, eh bingung mau duduk dimana. kenapa? ternyata di kelas depan sudah ada dua orang, di tengah ada tiga orang, tapi gendut-gendut, di kelas belakang juga sudah full. dengan terpaksa, saya duduk di kelas tengah. di dekat seorang ibu-ibu. kalo jadinya saya TERJEPIT. untungnya saya langsing (maksa). 
sebagai orang yang baik, tentu saja saya rela dengan semua ini. saking baiknya saya mungkin, maka saya diberikan banyak cobaan oleh Tuhan dalam mobil itu. shafnya seingat saya seperti ini, ada bapak-bapak, kemudian ibu,-ibu, selanjutnya cewe, saya, dan ibu-ibu di dekat jendela. setelah beberapa jam berjalan, seingat saya di jeneponto. cewe yang ada di sebelah saya, menelpon seseorang. ngomongnya seerrruuu skali. saya sempat iri lihat si cewe. saya cek handpone tak 1 pesanpun yang masuk, cek per cek ternyata tidak ada sebatang sinyal pun. heeeii ini orang ko' bisa2nya nelpon di tempat tak bersinyal seperti ini, tanya dalam hati. karna penasaran, saya bertanya, "mba pake kartu apa?". si cewe menjawab "pake simpati."
hey, simpati itu telkomsel kan? sama dengan saya kan? akhirnya kulirik dengan ekor mata, di handponenya pun ternyata tak bersinyal. hahahaha. ini cewe gila ya? pura-pura nelpon cuma buat sensasi kayanya.
tak berakhir disitu saja, di bagian belakang, ada lagi dua orang cewe, yang cerewetnya minta ampun, sumpah yaa... ini mobil benar-benar bikin saya boring (efek iri, ga' punya teman ngobrol). cerewet boleh-boleh aja neng, tapi jangan cerita aib diri sendiri dudul. ang sempat saya rekam dia bilang gini "bulan ramadhan kemarin, 1jii puasaku. itu yang satu hari itu, saya nda tau sah atau tidak, soalnya samaka' Sandi (pacarnya). yah biasa ada sesuatu yang saya lakukan." kalo cuma ada saya siiih, kau bisa fine2 saja ngomong gitu, eh ini banyak ibu-ibunya. sempat juga dia cerita, dia diterima kerja di INCO selama 6 bulan, gajinya sekian, kalo keterima jadi pegawai tetap, dia ninggalin kuliahnya. bla, bla, bla. panjaaaaaang skali. ini apakah? pamer? atau cuma saya yang sensi karna tidak ada teman ngobrol? yang jelas saya jengkel.
dan apesnya laaagiii >> ini yang paling apes. ibu-ibu di sebelahku muntah. waduh, saya kalo lihat orang muntah, juga mau ikutan muntah. Alhasil saya mual setengah mati, untung nda sempat muntah. dan sampai kosan dengan selamat.
begitulah cerita apes yang saya alami di perjalanan. kalo ceritanya seperti ini, mending saya tidak usah pulang kampung saja deh.. :(



Sabtu, 10 September 2011

Sahabat kursi Roda

Namanya Avrina Priyanka. Parasnya yang mengadobsi jelita cloepatra ini kerap kali mengundang kedipan sebelah mata para lelaki yang melintas di depan rumah kami, terkadang diiringi dengan siulan dan tentu saja dengan bumbu senyuman manis mereka. setidaknya hal itu bisa membuat Avrina tersenyum.
            Sepanjang hari dihabiskannya di teras rumah ditemani buku diary dan sebatang pulpen,. Hampir tiap bulan diarynya berganti karena saking seringnya dia isi dengan luapan hati dan pikirannya. Entah apa yang selalu iya tulis, aku tak pernah berani menanyakannya karna aku tahu itu pasti sangat pribadi.
            Usianya sama denganku, 18 tahun. Sayang sekali dia tak pernah mengecap bangku sekolah formal. Ibunya meninggal sejak dia dilahirkan. Sedangkan ayahnya meninggal karna kecelakaan saat ibunya masih mengandung dirinya. Avrina terlahir premature. Kedua kakinya bengkok dan sangat kurus. Kedua tangannya pun demikian. Namun tangannya lebih bisa bergerak bebas dibandingkan kakinya, sehingga iya harus selalu duduk di atas roda. Pernah suatu ketika ibuku memasukkannya ke sekolah khusus untuk anak cacat, tapi ibu kasian dengannya jika harus meninggalkannya di sana. Untuk mengantar dan menjemputpun ibu tak ada waktu, pekerjaannya menyita waktunya kadang sampai larut malam. Karna itu ibu memanggil terapis untuk Avrina. Dan akhirnya Avrina bisa menulis dengan baik. Hanya saja avrina bosan dengan terapi itu, karna menurutnya tak mungkin cacatnya disembuhkan, kedua kakinya tak mungkin diluruskan kembali.