Jumat, 24 Desember 2010

Mungkinkah Salah Pilih

kenapa harus kata itu??
Mestikah kami memilih??
Yah, ini demokrasi....
Kita yang menentukan....
Ah tidak,, yang satu ini paling sering muncul,,,
Dominan,,,,
Yah,,,, dialah pemenangnya....
Kupikir ini yang terbaik....
Tapiii.....
Nyatanya tidak...
Ini terlalu menyakitkan buat mereka,,
Sangat membuatnya terhianati...
Kami manusia-manusia baru yang hadir disini masih belum tau apa-apa,,,
Masih terlalu baru buat kami...
Bisikan-bisikan halus seolah mengajak kami memilihnya...
Entahlah itu sesuai dengan hati nurani, atau mungkin hanya sekedar ikut serta memilihnya...
Yang akhirnya malah menyakiti mereka yang sudah berjuang demi kami...
Sudah,,,
Ini benar sudah terlambat,, tiada gunanya menyesali semuanya...
Hanya perubahan yang kita inginkan...
Semoga pilihan itulah yang terbaik...

Rabu, 22 Desember 2010

Bungaku Semakin Gugur

Kudekati gadis berkulit hitam manis, berbadan kurus nan tinggi yang tampak seperti kapur tulis itu sedang tertunduk sendirian. Ia terlihat sangat kecewa dengan tes tadi. Yah tes seleksi pendaftaran masuk SMA. Ku ulurkan tanganku dan mencoba bertanya padanya, “Kamu kenapa?”
Dengan perlahan ia mengangkat dagunya yang sedari tadi tertunduk dan perlahan menjawab, “Ah ngga, ngga papa.” Tapi aku tau, meskipun ia tidak mengatakannya, pasti dia sedang gundah gulana memikirkan ujian tadi. “Oh iya aku Isma, kamu siapa?”
“Aku Bunga (dengan nama samarannya)” “salam kenal yah.” Kataku lagi, “Udah ngga usah dipikirin, Tuhan pasti ngasih yang terbaik. Eh aku duluan yah, itu kakak udah nunggu” lalu kutinggalkan gadis bernama Bunga tadi.
Senin, 12 Juni 2007 kalo tidak salah kukenakan seragam putih abu-abuku. Syukur Alhamdulillah aku lulus di SMA unggulan yang ada di daerahku. Waktu itu, aku adalah murid di kelas X5. Masih sangat asing rasanya berada di tempat ini. Teman-teman baru yang tingkahnya macam-macam, segala jenis karakter bersatu dalam kelas baruku ini. Di suatu siang aku duduk di bawah pohon mangga yang ada di depan kelasku bersama teman-temanku. Kulihat sosok gadis yang sepertinya tidak asing lagi bagiku. Yah, itu Bunga, gadis yang ku temui sekitar sebulan yang lalu. Ternyata dia lulus di SMA ini juga. Kulihat dia memasuki kelas tepat di sebelah kelasku. Yah, dia anak X4. Tidak sempat kutegur karena bel masuk telah berbunyi.
Hari demi hari kemudian berlalu, sering kali aku bertegur sapa dengan Bunga. Kini agak sedikit lebih akrab dari sebelumnya, ternyata dia gadis yang ceria. Senang rasanya bertetangga dengan dia, maksudnya tetangga kelas.
Tanpa terasa, semester satu kini telah berakhir, sudah menjadi tradisi di sekolahku penggeseran kelas bagi yang nilainya di atas standar. Entahlah berapa standard nilai yang telah ditetapkan pihak sekolah, yang jelas pada saat itu aku termasuk siswa terbaik di kelas X5 dan akhirnya bergeser ke kelas X1 yang telah ditetapkan sebagai kelas unggulan. Eh ngga nyangka, ternyata Bunga pun salah satu siswa terbaik di kelasnya. Jadi kami sekarang berada dalam kelas yang sama.
Kelas X semester 2 aku duduk sebangku dengan Bunga, karena kebetulan saat itu perwakilan dari kelasku hanya aku sendiri dan hanya Bunga yang aku kenal saat itu. Kutawarkan duduk bareng Bunga, dan dia mau.
Akhirnya aku dan Bunga mulai akrab. Tak jarang kami belajar bareng, main bareng, nyontek bareng bahkan tidur bareng. Paling sering ia mengajakku ke rumahnya katanya masakan mamanya enak-enak. Dan memang masakan mamanya Bunga enak-enak. Terang saja aku ngga pernah bosan datang ke sana. Beliau juga ramah, sering malah dia gabung bersama kami, turut mendengarkan celoteh-celoteh kami. Aku sangat suka dengan mamanya Bunga, dia sudah seperti mamaku sendiri.
Semakin lama aku dan Bunga semakin akrab. Dari kelas X sampai kelas XII kami selalu duduk bersama. Namun persahabatan kami tidak semulus yang kubayangkan. Di kelas XI kerikil-kerikil persahabatan mulai muncul. Aku mulai merasa kehilangan Bunga ketika ia berpacaran dengan salah seorang temanku di kelas sebelah. Hampir setiap detik, setiap menit mereka selalu bersama. Waktu istirahat mereka ngga pernah melewatkannya untuk bersama, pulangpun mereka bareng. Aku bahkan terlupakan oleh Bunga. Kucoba memaklumi semuanya, karena kusadar bahwa mereka adalah pasangan baru. Tapi semakin hari kumerasa dia keterlaluan, bahkan tak ada lagi waktu untuk sahabatnya.
Kali ini aku tak peduli dengan perasaan gundah yang berkecamuk dalam dadaku. Kucoba lupakan semuanya, bermain dengan teman-teman yang lain membuatku lupa dengan kegundahanku. Sangat berbeda, Bunga benar-benar berubah semenjak pacaran dengan Ardy. Jarang sekali dia meluangkan waktunya untukku dan teman-teman sekelasku. Mereka benar-benar serasa dunia milik berdua. Rasa muak mulai berkecamuk dalam dadaku. Hari demi hari Bunga yang dulu tak kunjung kembali, namun tak pernah juga kuungkapkan apa yang kurasakan padanya, kuharap dia akan mengerti sendiri apa yang tengah kurasakan. Atau mungkin dia memang sudah tidak membutuhkanku sebagai sahabatnya lagi. Entahlah, hanya dia yang tau jawabannya.
Rara, Nisa, Netha,dan Itha mereka teman terbaikku juga. Persahabatan pun mulai terjalin ketika Bunga mulai menjauh karena hanya mereka yang selalu siap mendengar segala curahan hatiku. Tapi aku tak pernah melupakan Bunga. Dan masih terus berharap Bunga kembali menjadi bunga yang dulu. Yang selalu gila bersamaku, nyontek, goblok, dan nangis bareng aku. Bahkan ada beberapa benda milikku yang persis sama dengan miliknya. Kami seperti dua sejoli yang kembar. Namun semuanya pudar sedikit demi sedikit.
Rara, Nisa, Netha, dan Itha bahkan tau gundah yang kurasakan, padahal aku tak pernah menceritakannya kepada mereka, mungkin karena melihat aku dan Bunga semakin jauh. Tapi, masa iya Bunga ngga pernah nyadar akan hal ini? Atau memang dia benar-benar sudah tak peduli lagi denganku?
Saat belajarpun bunga jarang sekali berbicara kepadaku. padahal sebelumnya meskipun sedang belajar pasti ada selingan canda di antara kami. tapi kali ini tidak. Kuputuskan untuk menceritakan semuanya kepada keempat sahabatku itu, berharap mereka bisa memberiku solusi. “Bek, mending kamu ngomong ke Bunga, ceritakan semua yang kamu rasakan, dan bilang ke dia kalau kamu mau dia kaya dulu lagi, tapi bukan berarti dia harus menjauhi Ardy.” Yah, sebutan “bebek” memang sudah melekat pada diriku, semua teman-temanku memanggilku dengan sebutan itu. Bahkan mereka jarang memanggilku dengan sebutan Isma, katanya itu panggilan sayang untukku. Sebutan itu lahir ketika aku mengalami masalah pada pita suaraku hingga suaraku terdengar serak-serak becek kaya bebek.
Yah, akan kucoba berbicara dengan Bunga. Kuminta waktunya di saat istirahat untuk ngomong berdua dengannya tanpa Ardy. Yah hari itu ngga Ardy di kelas . Kucoba tenangkan hatiku, tarik napas, dan perlahan kumulai membuka pembicaraan.
“Apa kabar?”
“Baiklah, kamu aneh deh, kitakan duduknya bareng, ko’ nanyanya gitu?”
“Iya, duduk bareng, tapi aku kan ngga tau kabar kamu. Kamu menghilang.”
“Maksud kamu”
“Iya, emang kamu ngga ngerasain? Udah deh lupain aja. Intinya ada hal penting yang mau aku omongin ke kamu”
“Iya aku juga mau ngomong hal penting ke kamu, tapi kamu duluan aja”
“Hmmm,,,sebelumnya aku mau nanya, apa kamu masih menganggap aku sahabatmu?”
“Ya masih lah.”
“Tapi aku merasa kehilangan kamu. Kamu terlalu sibuk dengan pacar baru kamu. Kamu sepertinya udah ngga butuh sahabat lagi setelah kamu punya Ardy. Kamu benar-benar berubah. Nyadar ngga, tiap waktu istrahat, kamu bareng dia terus, pulang bareng dia terus. Apa pernah kamu nanya kabar aku? Tiap kali aku ngajak kamu ngomong kamu cuma jawab seadanya. Kamu bosan yah temenan sama aku?”
“justru seharusnya aku yang nanya kaya gitu ke kamu, Isma (kali ini kamu benar-benar berubah, biasanya dia memanggilku dengan sebutan bebek, dan itu panggilan sayangmu ke aku). Apa pernah kamu peduli ke aku? Sekarang kamu kan yang menjauh dari aku? Kamu lebih sering bareng Rara, Netha, Nisa, dan Itha kan? Aku tau sekarang mereka adalah sahabat barumu. Dan kurasa kamu yang menjauh dari aku. Selama ini Ardy selalu datang ke aku karena dia tau kamu lebih dekat dengan mereka dan aku merasa kesepian. Hanya dia yang selalu menghiburku. Hanya dia yang mengerti aku.”
“Benar-benar ngga masuk akal. Justru karena kamu selalu bareng Ardy setiap detik, makanya aku selalu bareng mereka. Apa kamu mau aku turut nimbrung di antara kemesraan kalian? Ngga mungkin kan? Mereka yang selalu menghiburku di saat aku sendiri. Dan apa salahnya bareng dengan teman sekelas sendiri. Toh, seringkali aku manggil kamu gabung ke kita-kita tapi kamu ngga pernah mau, kamu cuma peduli dengan Ardy. Bahkan di saat aku punya masalah kamu ngga tau kan?”
“Itu karna kamu ngga pernah lagi mau curhat ke aku,” katanya.
“itu karna kamu ngga pernah lagi peduli dan ngga pernah lagi mau mendengarkan curhatku”. Sanggahku sambil meneteskan air mata.
Bunga terdiam. Sesaat ia kemudian mengeluarkan air mata.”kupikir ini hanya salah paham” katanya.
“Bunga, aku ngga pernah melarang kamu pacaran sama siapa aja, karna itu hakmu. Tapi kamu juga harus tau sahabatmu pun akan membutuhkanmu. Aku cuma mau kamu menyadari itu.”
Bel masuk kemudian berbunyi. Ku langkahkan kakiku masuk ke dalam ruangan, berharap semuanya akan kembali membaik, seperti yang dulu lagi. Pembicaraan tadi semoga bisa menyatukan aku dan Bunga kembali.
Tapi sayang seribu sayang. Tidak seperti harapanku. Memang agak sedikit membaik, tapi hanya sedikit. Kali ini sudah lebih longgar. Lebih sering ngomong. Tapi tetap Bunga yang sekarang bukan Bunga yang dulu, yang semua curhatnya tidak lagi ke aku, tapi ke ardy. Aku hanya bisa mendoakan semoga kalian tetap saling menyayangi sampai tua nanti. Dan aku akan tetap menganggap kalian sahabat-sahabatku. Bunga, Rara, Netha, Nisa, dan Itha terima kasih telah mengisih hari-hariku dengan penuh canda dan air mata. Aku menyayangi kalian semua.

POHON PLASTIK PALSU

Pohon plastik palsu, palsu kuadrat, bisa dibilang bermuka dua. Judulnya terinspirasi dari lagunya fake plastic trees-nya Radiohead dalam novel 5 cm. Karena kisahnya hampir sama dengan salah satu kisah persahabatan Arial, Genta, Ian, zafran, dan Arini dalam novel 5 cm. Kalau di novel 5 cm mereka berjumlah 5 orang, kami hanya 3 orang. Dan semuanya cewek.
Iya, ini tentang kisah persahabatanku ketika masih duduk di bangku SMP. Persahabatan kami mulai terjalin ketika awal-awal menjadi siswa baru. Terhitung terjalin sangat cepat karena memang sebelumnya kita sudah saling mengenal satu sama lain. SD kelas 6 kami berada dalam satu TK TPA yang sama. Di sana kami mengenal nama dan kadang berlempar senyum satu sama lain. Hanya pada saat itu kami hanya sebatas bertebar senyum dan bertegur sapa. Nah, akhirnya tiba pendaftaran siswa baru. Waktu itu kami pun dipertemukan kembali, keakrabanpun mulai terjalin, hingga pada akhirnya kami bertiga di tempatkan dalam kelas yang sama.
Aku, Icha, dan Tias (dengan nama samarannya) duduk berdampingan. Terkadang aku duduk bareng icha, sesekali aku duduk bareng Tias. Karena satu meja untuk dua kursi, sebenarnya aku duduk bareng Tias, tapi kadang-kadang duduk bareng Icha saat pelajaran Matematika, nah kalau yang ini dia yang memanggilku duduk di sebelahnya. Entahlah, mungkin karena aku sedikit lebih dari dia kalau pelajaran ini.

Rabu, 08 Desember 2010

Mencari jejak sang penuntun...

langkah demi langkah kian berganti...
jejak kakiku tergambar jelas di atas bumi....
kucoba mencari jejak demi jejak yang telah tergambar sebelum jejak kakiku...
semakin kumencari,,, semakin tak terlihat jejak itu...
yah,,, tetesan air dari langit yg tiada henti yang membuatnya terhapus begitu saja ...
itulah gambaran kehidupanku...
kucoba mencari jejak yang bisa menuntunku mencari ridho-Nya..
namun ketika jejak itu tak mampu kutemukan,,
akan kucari sendiri arah menuju ridho-Nya....

namun,,,,
tak selamanya jejak yang kudapat itu adalah jejak langkah menuju kebenaran,,,
terkadang dialah yang akan menghancurkanku...
hanya cahaya yang akan menuntun ku mencari pintu-pintu terindahMu....