Senin, 30 April 2012

Cinta itu adalah Pilihan

Siapa yang tak menginginkan pria seperti dia. Baik hati, sabar, setia, bersahaja, perasa, penyayang, pengertian, tak banyak bicara namun tepat sasaran. Sungguh beruntung wanita yang disayangnya. Namanya Reihan Prasetyo. Orang-orang memanggilnya Rei. Dia adalah pria pertama yang kuacungi jempol atas sifatnya. Belum pernah aku melihat sifat buruknya selama 5 tahun aku mengenalnya. Bukan aku yang jatuh cinta padanya, tapi temanku. Namanya Oca’. Aku hanya mengagumi sifatnya, kelak aku berharap masih ada pria lain yang seperti dia di dunia ini yang menjadi pendampingku.
                Malam ini pria ini ada di depanku, bercerita tentang kisah cintanya sejak 5 tahun lalu bersama dengan wanita yang dari dulu dicintainya. Yah, tak salah lagi. Wanita itu adalah Oca’. sudah sejak lama Rei jatuh hati kepada Oca’. sejak awal kami mengenyam bangku SMA. Aku, Oca’, dan juga Rei pernah berada dalam kelas yang sama. Dari gerak geriknya, aku menangkap simpati dimata Rei pada Oca’ dan kurasa lama kelamaan rasa itu berubah menjadi perasaan yang kuat. Sampai suatu hari aku pernah menemukan sejumlah foto Oca’ di handpone Rei. Persis seperti pengagum rahasia dalam FTV. Selidik demi selidik ternyata benar, Rei jatuh hati pada Oca’. Tapi dasar Oca’ orangnya tidak peka, jadi ia cuek-cuek saja.
                Suatu hari Rei menyatakan perasaan itu pada Oca’. waktu itu kami masih di kelas 1 SMA. Memang Oca’ punya prinsip untuk tidak pacaran dulu. Akhirnya Rei hanya bisa memendam perasaannya. Beberapa kali ia menyatakan perasaannya, namun lagi-lagi Oca’ menolaknya. Baru pada saat kami duduk di bangku kelas 3, barulah Oca’ menerima Rei menjadi pacarnya. Sungguh indah dipandang mata. Aku menyukai gaya mereka pacaran yang tak seperti remaja kebanyakan. Bahkan orang tua mereka sama-sama saling mengetahui hubungan mereka, sehingga Rei dipercaya oleh ibunya Oca’ untuk selalu menjaga Oca’.

Selasa, 24 April 2012

Sepotong Bronis Coklat


Hari hampir petang, sedikit lagi matahari lelap dalam peraduannya. Barisan garis jingga nampak elok memandangi nasib seorang wanita tua yang sedari tadi duduk manis di koridor kampusku. ini bukan pertama kalinya kulihat wanita tua itu. Wajah teduh dengan garis umur di wajahnya menambah pilu tatkala tiap hari ia harus menapaki sepanjang koridor kampusku. Kuperkirakan umurnya sekitar 70an keatas. Seperti orang berumur kebanyakan, postur tubuhnya tak lagi tegap. Jalannya pun sudah terlihat berat. Beban umur mungkin. Satu hal yang kusuka darinya, senyum selalu mekar di wajahnya.
Dari kejauhan kupandangi ia tengah merapikan sejumlah uang kertas yang kebanyakan uang seribuan. Sesekali, ia mengelus gulungan rambut putih keritingnya kemudian kembali menghitung uang yang dipegangnya. Mungkin ia lupa jumlah yang telah dihitungnya. Kulihat ia mengulang hitungannya selama tiga kali. Tak salah lagi, uang-uang itu adalah hasil jualan kue seharian.
Hari semakin petang, angin dingin berhembus kencang. Lalu lalang mahasiswa pun semakin berkurang. Sayangnya rintik hujan mulai menyapa. Padahal cuaca nampak aman-aman saja.  Kuurungkan niat untuk pulang, lalu perlahan kudekati wanita tua itu. kulihat di kotak kuenya, masih tersisa dua potong kue bronis coklat. Kusodorkan dua lembar uang kertas dua ribuan lalu kumakan kedua potong kue itu.

Selasa, 03 April 2012

Belajar dari Negeri Nihon

taken from google


Beberapa hari lalu saya membaca sebuah artikel di salah satu Koran online yang mengatakan bahwa minat baca masyarakat Indonesia masih sangat rendah. Menurut menteri bidang kesejahteraan rakyat H.R. Agung Laksono, persentase minat baca masyarakat Indonesia hanya sebesar 0,01 persen. Artinya dalam 10.000 orang hanya 1 orang saja yang memiliki minat baca.
Konon, di berbagai literatur banyak dijelaskan bahwa rendahnya minat baca masyarakat Indonesia disebabkan oleh banyak hal. Di antaranya sistem pembelajaran belum membuat siswa ataupun mahasiswa harus membaca buku lebih banyak dari apa yang diajarkan dan mencari informasi atau pengetahuan lebih dari apa yang diajarkan; internet yang seharusnya mampu membawa dampak peningkatan minat baca ternyata tidak pada perannya, ternyata malah disalahgunakan karena sifatnya yang visual; banyaknya hiburan TV dan permainan di rumah ataupun di luar rumah yang membuat perhatian anak ataupun orang dewasa untuk menjauhi buku; banyaknya tempat-tempat hiburan seperti taman rekreasi, karaoke, mall, supermarket, dan lain-lain;, buku dirasakan masih sangat mahal dan begitu juga jumlah perpustakaan masih sedikit dibandingkan dengan jumlah penduduk yang ada dan kadang-kadang letaknya jauh, serta masih banyak lagi alasan mulai dari A sampai Z yang dijadikan alasan rendahnya minat baca di Indonesia.