7-12 Januari 2014.
Tiga rombongan lepas sudah dari hiruk pikuk kota. Menanggalkan aktivitas yang sekiranya sedikit banyak berperan melahirkan penat pada tuannya. Aku salah satunya, pergi sekedar untuk melepaskan penat, juga sebelum kembali diperhadapkan dengan benih-benih penat yang lain. Sepertinya akan menjadi keniscayaan lagi jika mengingat status sebagai "mahasiswa tingkat akhir". Juga untuk menggenapkan mimpiku berkeliling Sulawesi.
Tepat pukul sebelas malam, kami bergegas meninggalkan kekaki mungil di koridor kampus. Sejak pagi semut-semut koridor sepertinya jemu memandangi wajah lusuh kami yang tak juga kunjung beringsut dari sana. Kabar yang dinanti sejak pagi tak lain hanya kabar keberangkatan. Seharusnya kami memang sudah memulai perjalanan sejak tanggal 6 kemarin, namun lagi-lagi, tidak ada sebaik-baik perencana kecuali yang di atas. Lalu langit malam semakin pekat, barulah kabar baik sampai pada tuan-tuannya. Beranjaklah kami ber-22 orang ke bumi Lakipadada.
**
Pagi membuka mata lebih dulu dariku. Aku memang lelap dan melewatkan banyak likuk jalan (setengah dari daerah Enrekang), yang mungkin jika terjaga akan berasa mual. Aku membalik pandang ke arah kanan jalan. Elok benar yang kulihat. Lekukan Gunung Nona rupanya, gunung yang katanya eksotis. Ini memang kali kedua aku ke Toraja, namun di perjalanan sebelumnya aku tak sempat menyaksikannya, sebab kantuk yang dipaksakan saat berhadapan dengan jalan berkelok-kelok.