Minggu, 19 Januari 2014

Selamat berulang Bulan & Tanggal, Perempuan ^^

Untuk "Perempuan" yang menamai diri Azure Azalea.


Sejak takdir menuliskan diri pada pertemuan kita di sebuah gedung, sejak itu aku lekat pada ingatan akan kau, Perempuan. Jika kau masih ingat, di sana  kita pernah bersila manis, berucap mimpi sama-sama menjadi purna nantinya, saling mendoa dalam dekap semesta. Iya, doa yang membimbing jemari kita pada satu bentukan yang sama. Kurasa kau masih ingat. Karena akupun masih. 

Setelah pertemuan itu, entah dimana kali kedua kita dipertemukan. Aku lupa. Kurasa kau pun. Karena sakit kita sama. Sakit lupa. 

Selasa, 14 Januari 2014

Perjalanan ke Bumi Lakipadada #Part 3 (Ke negeri Kabut)

Masih juga aku berusaha melawan ronta seisi perut yang meminta ditumpahkan. Untung saja pertahananku masih kokoh. Lika liku jalan memang tak ada habisnya. Kuingatkan, jangan mengimpikannya di sini. Ingin memejamkan mata, sayang jika melewatkan landscape di sepanjang mata memandang. 

Destinasi selanjutnya adalah Batu Tumonga.Sepanjang perjalanan, tak henti mataku terpukau pesona hijau alam Toraja. sedikit demi sedikit perjalanan semakin menanjak. Sepertinya mobil sedang mengejar puncak. Hamparan hijau berpematang, berbungkus rapi dengan keelokan subur oryza. 

Tak jarang kudapati bebatuan besar di sisi jalan. Pun di tengah sawah. Atau bahkan pada gundukan yang membentuk rupanya sendiri. Batu hitam, yang lalu berpintu. Unik. Seperti sedang menyaksikan film yang entah. Bantu berpintu yang di kanan kirinya masih ada rangkaian bunga duka. Itu kuburan rupanya. Tak habis pikir aku dibuatnya. Melubangi batu untuk menyimpan mayat, itu mereka sebut kuburan.

Senin, 13 Januari 2014

Perjalanan ke Bumi Lakipadada #Part 2 (Menyaksikan Upacara Rambu Solo)

Bumi Lakipadada, begitu orang menamai Tana Toraja. 


Dari balik patung Lakipadada aku meneropong jauh ke arah berlawanan. Imaji menari di atas bukit yang berlatar gereja Bukit Sion. Kubentangkan nafas panjang beralamat siap menjelajah alam Toraja yang penuh likukan jalan. Kutegaskan ini bukan perjalanan biasa. Bayang-bayang tradisi upacara kematian yang tak pernah kulihat sebelumnya, membuatku sedikit geming membayangkan bagaimana rupanya. Dan alamat pembuka perjalanan kami adalah ke tempat salah seorang rekan yang di sana tengah berjalan upacara Rambu Solo. Kakek yang meninggal ternyata sudah memasuki usia sembilan bulan kematian. Bagi orang baru sepertiku, cuat tanya mengambang-ambang di kepala.

Sepanjang perjalanan terbentang hijau alam Toraja. Bukit dengan hias gereja di hampir setiap puncaknya, menambah kekhasan Toraja. Mungkin itu sebab mengapa Toraja disebut bumi seribu gereja. Pula tata bangunan yang tak apik berdiri merupakan keindahan yang lain menurutku. Aku menyukai bagian itu, mengingat tipografi daerah ini memang berbukit dan berkelok-kelok. 

Belum jauh mobil kami meninggalkan Makale menuju Rante Pao, masih lekat kupandangi setiap hamparan hijau di sayap kanan dan kiri jalan. Pemandangan yang tak jarang didapati adalah perbicangan bangau di atas punggung kerbau. Persahabatan alam.

Minggu, 12 Januari 2014

Perjalanan ke Bumi Lakipadada #Part 1

7-12 Januari 2014.

Tiga rombongan lepas sudah dari hiruk pikuk kota. Menanggalkan aktivitas yang sekiranya sedikit banyak berperan melahirkan penat pada tuannya. Aku salah satunya, pergi sekedar untuk melepaskan penat, juga sebelum kembali diperhadapkan dengan benih-benih penat yang lain. Sepertinya akan menjadi keniscayaan lagi jika mengingat status sebagai "mahasiswa tingkat akhir". Juga untuk menggenapkan mimpiku berkeliling Sulawesi. 

Tepat pukul sebelas malam, kami bergegas meninggalkan kekaki mungil di koridor kampus. Sejak pagi semut-semut koridor sepertinya jemu memandangi wajah lusuh kami yang tak juga kunjung beringsut dari sana. Kabar yang dinanti sejak pagi tak lain hanya kabar keberangkatan. Seharusnya kami memang sudah memulai perjalanan sejak tanggal 6 kemarin, namun lagi-lagi, tidak ada sebaik-baik perencana kecuali yang di atas. Lalu langit malam semakin pekat, barulah kabar baik sampai pada tuan-tuannya. Beranjaklah kami ber-22 orang ke bumi Lakipadada.
**
Pagi membuka mata lebih dulu dariku. Aku memang lelap dan melewatkan banyak likuk jalan (setengah dari daerah Enrekang), yang mungkin jika terjaga akan berasa mual. Aku membalik pandang ke arah kanan jalan. Elok benar yang kulihat. Lekukan Gunung Nona rupanya, gunung yang katanya eksotis. Ini memang kali kedua aku ke Toraja, namun di perjalanan sebelumnya aku tak sempat menyaksikannya, sebab kantuk yang dipaksakan saat berhadapan dengan jalan berkelok-kelok.