Pagi menuntun pandangku pada Moringa Oleifera di halaman rumah. Daunnya lebat dan mungil. Yang kuning berlomba embun meluruh ke tanah. Siapa yang lebih dahulu dimenangkan angin, ia akan dahulu bercumbu bumi. Kuamati sekujurnya, bagian batang ia keropos rupanya, di tengah-tengah nyaris kosong, namun daunnya masih subur dan lebat. Pantaslah orang menamainya pohon ajaib.
Melihat rupanya, aku teringat masa kecil dahulu. Sepertinya ia lebih tua dariku. Salah satu dari dua moringa yang ada di halaman rumah, adalah teman bermain kala kecil dahulu. Semasa daunnya lebat, ia adalah tempat persembunyian paling strategis saat main "Pole-Pole"-semacam permainan petak umpet (sebutan jawa-nya). Pohon yang satu lagi adalah pohon jambu biji yang berada tepat di samping rumah, meski hanya bagian batang paling bawah yang bisa kupanjati. Jika telah menggapai percabangan pada batangnya, disanalah aku bertengger, tak berani lebih tinggi. Selebihnya adalah berteriak pada teman yang berada jauh di atas sana untuk diambilkan buah yang matang.
Melihat rupanya, aku teringat masa kecil dahulu. Sepertinya ia lebih tua dariku. Salah satu dari dua moringa yang ada di halaman rumah, adalah teman bermain kala kecil dahulu. Semasa daunnya lebat, ia adalah tempat persembunyian paling strategis saat main "Pole-Pole"-semacam permainan petak umpet (sebutan jawa-nya). Pohon yang satu lagi adalah pohon jambu biji yang berada tepat di samping rumah, meski hanya bagian batang paling bawah yang bisa kupanjati. Jika telah menggapai percabangan pada batangnya, disanalah aku bertengger, tak berani lebih tinggi. Selebihnya adalah berteriak pada teman yang berada jauh di atas sana untuk diambilkan buah yang matang.
Iya, itu dulu. Saat masih belum ada pohon rambutan yang tak kunjung berbuah menjulang lebih tinggi dari pohon moringa itu. Saat pohon mangga di sisinya belum setinggi ujung ranting moringa. Juga saat umurku belum sebanyak ini. Waktu itu, aku masih si kecil yang suka menangis meraung-raung. Anak perempuan kecil yang pada musimnya, suka bermain wayang (permainan gambar) dan kelereng dengan kakak dan sepupu yang kebanyakan lelaki. Bermain monopoli hampir di tiap siang saat bulan ramadhan. Dan sesekali bersama teman perempuan bermain "bongkar pasang" dan boneka-boneka kecil yang kepalanya bisa dilepas (semacam barbie). Bermain bulu tangkis di pinggir jalan, main "Asing-asing", "ciko", lompat tali, dan juga "deppa" bersama teman yang kebanyakan perempuan. Ah, menyenangkan skali.
Sekarang? Sepi. Teman, sepupu, semuanya laiknya binasa di telan masa. Beberapa teman perempuan sudah menikah dan punya anak, bahkan sekadar bernostalgia pun agak sulit, sebagian habis sudah meninggalkan kampung mencari ilmu di kota. Sebagiannya lagi merantau mencari nafkah ke kampung orang. Sudah banyak yang kulewatkan di sini, beberapa pemuda dan orang tua telah berkalang tanah meninggalkan persinggahannya.



