Tampilkan postingan dengan label Kekata Saja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kekata Saja. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 Januari 2014

Menyoal Usia dan Cinta

Menyoal tentang cinta, perkara sepertinya tak kan ada ujung. 

Beberapa hari belakangan aku sering larut akan obrolan banyak orang - yang kebanyakan dalam tulisan. Iya, cinta. Tak usah kau tanya hati kapan kita bisa lepas dari obrolan tentang cinta. Tidak akan pernah. Matilah hati jika tak ada cinta. Mati hati, tak lama raga pun minta dinisankan. Mungkin jika bukan dalam kata kau ucapkan, namun hati adalah sebaik-baik pemuja cinta.

Cinta yang kumaksudkan, tentulah kita sudah sama-sama mafhum. Cinta yang tidak hanya pada lawan jenis tentunya. Tapi cinta yang sebenar-benar cinta.

Ah, sungguh akupun tak paham benar, sudahkah hati peroleh cinta yang sebenar-benar cinta? Kurasa tanyakan pada hati masing-masing kita, melalui ucap dan laku. Jika belum, maka bersegeralah menuju padanya. Jika tak tahu caranya, cukup perhatikan orang-orang di sekitar yang penuh akan cinta hatinya. Jika kau tak mampu membedakan, sasarlah tempat di mana ada mereka yang membuat damai kau di sana. 

Baiklah, bukan itu yang sebetulnya kuperkarakan pagi ini. Di pagi buta aku terbangun dari mimpi yang entah, laptop masih dalam keadaan hidup. Semalam aku tertidur sebelum waktunya rupanya. Saat aku hendak mematikan laptop, kusempatkan mengecek dashbor blogku, ah ada tulisan baru seorang kawan lagi, dan yah, tentang cinta dan urusan pinang meminang. Pagi yang tadinya membelai kembali mataku untuk tertidur setelah mendirikan subuh, melek lagi akhirnya. 

Sabtu, 25 Januari 2014

Pohon Asa

Usah kau hitung masa ke berapa kau tanam asa lalu pergi meninggalkannya. Kita pernah bersama merawatnya tanpa ada saling menyepakati. Sesekali kau menyirami kala aku luput. Sesekali kau enyah bahkan hampir hingga layu. Lalu setelah hampir ia mati, tiba lagi kau padanya. Berapa lama kau akan di sana? Menarik ulur hidup dan mati asa?

Hari sebelum ini, tak sengaja mata kita sua pada satu titik. Lenyap logika seketika. Akal sekali-kali hanya nama saja. Hilang ia jika hati hendak bicara.  Mantra apa telah kau sebar? 

Saban hari aku hendak berhenti saja. Persepakatan yang tiada, tak lain adalah jalan pengantar mati. Jika asa sampai pula pada puncaknya, nyawapun tak berharga lagi, bahkan kadang Tuhan pun terlupa. Ah, jangan sampai. 

Dimana ia datang, maka di situ ia kembali. Sujudlah pemintal asa yang lain. Asa yang sebenar-benar asa.
-Jika Ia berkehendak, pohon asa kita Ia akan jaga. 


**Tulisan ini sepertinya sebab kandung Sindrom Hayati-Zainuddin**