Entah bagaimana memulai cerita setelah dua minggu menghilang dari dunia persilatan. Nyaris dua minggu tidak ke kampus (baca: kecuali sehari waktu ujian proposalnya Ria-teman seperguruan) dan tidak berada di mana-mana (baca: kecuali nonton 99 Cahaya di Langit Eropa part 2, sekolah menulis FLP, antar proposal ke Dinas Pendidikan dan Dispora). Selebihnya di mana saya berada? Saya sedang membayangkan diri saya terdampar di dunia antah berantah - tempat terdamparnya pesawat MA MH370.
Baiklah, untuk banyak pengecualian tadi, ternyata kalian tidak kesepian, kalian masih memiliki banyak teman yang jauh lebih menarik perhatian saya. Demam selama 3 hari, kerja skripsi, dan yang paling penting adalah sibuk mempersiapkan diri untuk ritual tahunan (Seleksi PPAN).
Kalau masih ada yang bertanya apa itu PPAN? Sini, biar ibu guru jelaskan.
PPAN itu singkatan dari Pertukaran Pemuda Antar Negara. Kegiatan ini diadakan oleh Kementrian Pemuda dan Olah Raga. Karena seleksinya dikembalikan ke provinsi masing-masing, maka yang meng-handle seleksi di Sulsel adalah Dispora Provinsi bekerja sama dengan Purna Caraka Muda Indonesia (PCMI Sulsel, yang adalah asosiasi alumni PPAN). Setiap tahun, jatah setiap provinsi berbeda. Tahun ini, jatah Sulsel untuk Laki-laki adalah Korea, ASEAN-Jepang, dan Kanada. Sedangkan untuk perempuan jatahnya ke Australia dan Malaysia. *Jika ada yang penasaran dan berniat untuk mendaftarkan diri tahun depan, silahkan klik pcmisulsel.blogspot.com dan join di grup facebook Student and Youth Forum (South Sulawesi) untuk tetap update infomasinya.
![]() |
| 5 April 2014, lagi gifo di mushollah Dispora efek tidak ada yang foto pas performance |
**
Percayalah, tahun ini adalah kali ketiga saya mengikuti seleksi PPAN. Sebetulnya sudah kuputuskan untuk tidak ikut lagi tahun ini, biarlah saya fokus menyelesaikan skripsi. Tapi karena hasutan beberapa orang, akhirnya saya memutuskan untuk ikut kembali. Mumpung masih muda, single dan masih tinggal di Sulawesi. Lagi pula tidak ada yang bisa menjamin saya akan gagal lagi tahun ini. Meski tidak ada pula yang bisa menjamin saya akan lolos. tapi percayalah, kita tidak akan tahu menang atau kalahnya kita, jika kita tidak mencoba. Just do it.
