Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 Januari 2014

Tragedi Dusunku

Dunia tak ubahnya memenjarakan kerakusan. Sudah belasan tahun dendam belum juga membusuk dan mati. Bahkan sudah beranak cucu. Untunglah ayah selalu mengajarkanku bijak. Lalu adakah manusia yang lepas dari luput?
Ah, ayahku sayang telah renta. Rambutnya putih hampir seluruhnya. Keriput sudah wajah dan jemarinya. Ini aku yang tak lagi kanak, ayah. Pulang dengan seribu jawaban yang akhirnya waktu menuntunku padanya.
“Bagaimana keadaan masjid, Ayah?”
“Begitulah, Nak. Masih ada dendam di antara mereka. Dusun kita masih dua kubu. Padahal sudah berapa kali ganti pemerintah.”
Tahta dusun berakhir tragedi di sini. Selalu ada dendam. Bahkan masjid pun jadi medan tikam.
“Tugasmu, menyatukannya kembali, Nak.”
*

Minggu, 27 Oktober 2013

PEREMPUAN TANA LE'LENG.

Di depan pintu gerbang Tana Toa aku berhenti.  Mataku terpaku ke gerbang tua itu. Dan aku tahu aku melakukan itu bukan karena gerbang itu sangat menarik hatiku. Aku tumbuh di sekitar tempat ini. Aku bermain di sekitar tempat ini.
       Mataku tertuju ke sana tapi aku seolah tak melihatnya. Mataku hanya  menghindari mata orang-orang yang berpapasan denganku. Aku kenal mereka. Tapi mereka seolah tak melihatku. Bahkan ada yang meludah.
      "Anak songka!" sekali sekali kudengar di antara mereka berkata. Tak takut. Tak peduli mereka tahu aku mendengarnya.
        Aku mengeluh. Aku bertanya pada kakiku. Apakah aku akan terus melangkah ke sana?
       Sudah berapa tahun. Dua ataukah tiga. Ataukah lima tahun aku meninggalkannya? Seolah baru kemarin, saat di suatu malam aku mengendap-endap ke luar dari pintu gerbang itu. Hanya berbekal hati yang marah. Hati yang kesal. Hati yang nekad. Tanpa restu bapakku, yang mungkin malah memberiku sumpah serapah dan kutukan. Tanpa uang tanpa bekal, kecuali hasil patekko-ku selama bertahun-tahun.  “Di dunia luar itu harganya ratusan ribu, Ita,“ kata tetangga-tetangga. Aku percaya. Dan aku yakin berbekal itu semua aku akan bisa hidup bebas.
       Hidup bebas?  Aku merindukan itu. Bapakku tokoh di sini, seorang pemangku adat, dan sehari-hari orang menghormatiku, menghormati keluargaku. Tapi itu malah bagaikan penjara bagiku. Aku ingin bebas! Aku ingin menikmati dunia di luar Tana Toa, aku ingin  merasakan hidup seperti si Iski, si Ina atau si Atun yang bebas belajar di kota. Ah. Aku begitu iri pada mereka yang berasal dari keluarga biasa, tak terlalu terkekang adat.

Jumat, 07 Desember 2012

Senyum Senja

           Tawanya melenting. Ini adalah yang kesekian kalinya. Sedari tadi semenjak kami yang sedang tak punya kesibukan berkumpul di tempat ini tawanyalah yang paling terdengar jelas di antara kami. Bahkan hal yang tak lucu menurut kami pun ia tertawai sejadi-jadinya, begitulah ia setiap hari. Di tempat ini, tempat yang paling sering menjadi tempat bertengger tiap kali tak ada kuliah. Tempat yang kami gunakan hanya untuk sekedar ngalor ngibul bersama teman-teman. Tempat yang menjadi saksi betapa telah tercipta kebersamaan yang begitu lekat diiringi canda tawa di antara kami, juga saksi betapa ceria teman wanita kami yang satu ini. Aish. Begitulah ia mengisi hari-harinya.

Ini bukanlah awal cerita di antara kami. Kukenal ia sejak duduk di bangku SMA dulu, tahun ini adalah tahun keenam kami bersama. Kebiasaan untuk tertawa seperti itu barulah kusadari sejak dua tahun terakhir ini. Entah apa yang membuatnya begitu geli dengan cerita-cerita teman ataupun senior-senior kami yang kadang hampir semua orang menilainya tak lucu. Di SMA dahulu kukenal ia adalah seorang yang jarang berbicara. Wataknya keras, begitulah yang kutahu meskipun kami tak begitu dekat saat itu, namun sekelas selama tiga tahun dengannya cukuplah untuk memberikan penilaian terhadapnya. Dan kini program studi Komunikasi telah mempertemukan kami kembali. Beginilah Aish dua tahun belakangan. Mungkin orang yang tak betul-betul mengenalnya akan mengatakan ia tak punya selera humor, apapun ia tertawakan. Bahkan jika ingin tak dikatai garing, meluculah di depan Aish maka tak ada leluconmu satupun yang akan dinilai garing olehnya.

Senin, 03 Desember 2012

Gara-gara Printer

Masih teringat raut wajah teman-temanku malam itu. Malam syahdu nan mengharukan. Malam itu adalah H-1 kegiatan penyambutan mahasiswa baru di universitas kami, Universitas Fajar Menyingsing. Entahlah aku ingin menyesali kebiasaanku menunda-nunda waktu atau malah bersyukur. Di satu sisi, aku memang bersyukur bisa menghabiskan malam dengan teman-teman seorganisasiku, ritual ini memang jarang kami lakukan. Namun di sisi lain, ini membuat kerjaan serba terburu-buru dan akhirnya tak beres. Beberapa hari sebelum hari H aku seharusnya sudah menyiapkan printer yang akan dipakai untuk mencetak leaflet yang telah kubuat untuk acara itu. Kuandalkan printer salah satu temanku. Ternyata bena-benar salah, dia pun menggunakan printernya dalam kegiatan yang sama, hanya saja dia tak seorganisasi denganku.
H-1 kuhubungi temanku itu, sebut saja namanya Tukiyem. Kuminta iya meminjamkan printernya padaku karena printer milik organisasiku sedang rusak. Sudah kurencanakan untuk menyelesaikan cetakan leaflet sejumlah 500 eksamplar itu sendirian. Sayang sepuluh sayang seperti yang kukatakan Tukiyem menggunakan printernya. Kutelpon satu persatu teman-temanku yang kuperkirakan memiliki printer. Lagi, sayang seratus sayang, Sumantri yang seharusnya bisa meminjamkan printernya ternyata masih di kampung halamannya menikmati liburan. Dia malah menyarankan aku ke tukang printer saja lalu foto copy, dan itu sama sekali takkan kulakukan. Itu sama saja menyerah.
            Hampirlah aku menangis, Santoso, Markona, Ambo Dalle, Sannero, atau pun Nahorang, tak satupun yang memiliki printer. Begitu pula saat kutelpon Limang, Jumrang, Bintang, Rustang. Satu lagi, Jihan, entahlah mungkin namanya Jihang seperti yang lainnya. Maklumlah dengan dialek orang Makassar, sampai-sampai dialeknya terikut pada saat pemberian nama pada anaknya.

Senin, 25 Juni 2012

Mata Sendu itu


Senja di cakrawala semakin merona. Guratan indah itu tak mampu membantuku menemukan taman indah dalam setiap langkahku. Kucoba menelusuri rintihan jiwa yang telah lama hilang, mencoba menguak senyum yang telah lama sirna. Namun, tak setegar harapku, hatiku selalu rapuh. Asa yang kutanam kini telah mati, tiada lagi mata sendu yang menyiraminya ketika mulai layu. Perlahan semakin layu, layu, kemudian tak lagi bernyawa.
Mata sendu itu enggan menatapku lagi. Bagaimana bisa dia menatapku, kalau mata itu kini telah menjadi kenangan, sekedar ingatan dalam benakku. Aku selalu merindukannya, tak ada yang bisa menggantikannya, bukan hanya sendu matanya, tapi siraman kasih sayangnya yang selalu menyirami taman indah dalam jiwaku. Sudah lama aku ingin menanam benih-benih keindahan itu kembali, tapi tetap saja aku tak bisa merawatnya. Sekali layu, tak ada lagi harapan untuk bisa bangkit.
Mata sendu itu tak mungkin lagi menatapku, menyirami hariku dengan kasih sayangnya. Tangan lembutnya pun tak mungkin lagi membelai rambutku, mengusap air mataku. Tak mungkin lagi aku memeluk dan terlelap dipangkuannya.

Julia dan Luna

Kamar ini tak lagi seperti sebuah kamar mahasiswa normal. Sepertinya lebih cocok menggambarkan anak berandalan yang sama sekali tidak peduli dengan estetika. Awalnya kamarku selalu rapi, bersih, dan juga wangi. Namun sekarang sangat jauh berbeda dengan hari-hari sebelum aku mengenal kedua temanku ini, Julia dan Luna. Dua buah helm miliknya, tas dan pakaian berserakan dimana-mana, gelas dan piring berantakan, puntung rokok bertumpuk dalam asbak, dan juga asap mengepul dimana-mana.
Meskipun mereka hampir tiap hari membuat kamarku ini berantakan aku sama sekali tak pernah melarangnya untuk datang. Sehabis kuliah mereka kerap kali beristirahat di kamarku. Tak pernah kurang dari dua bungkus rokok berisikan 32 batang mereka habiskan dalam waktu 5 jam. Mereka bukan tak punya orang tua, tapi tak ada perhatian dari kedua orang tuanya. Aku mengerti apa yang membuat Julia seperti ini. Dalam sehari dia bahkan tak sempat mengucap sepatah katapun kepada orang tuanya. Ayah dan ibunya sangat sibuk dengan perusahan mereka. Mereka sering kali pulang ketika Julia sudah tertidur pulas. Padahal Julia sangat merindukan kasih sayang orang tuanya. Tapi mana sempat ayah dan ibunya mengabulkannya. Ketika Julia bangun pagi, ayah dan ibunya sudah tak berada di rumah lagi. Tak heran kalau kelakuan anaknya di luar sana tak sedikitpun dia ketahui.
Berbeda dengan Luna yang memang berlatar belakang broken home. Sejak kedua orang tuanya berpisah dia mulai bergaul dengan teman-teman berandalannya. Tapi semenjak mereka sering mampir ke kamarku, tak pernah lagi dia bertemu dengan teman-temannya.

Rabu, 02 Mei 2012

Sayang, Kamu Orang Kecil


Wajahnya merah padam, mungkin sebentar lagi meledak. Pandangannya begitu tajam ke arah pria yang tengah menundukkan pandangannya itu.
“Keluar dari ruangan saya, kamu sudah berani memancing emosi saya.”
Dilemparkannya sejumlah kertas beserta map merah ke arah pria itu. Di Bagian depan map bertuliskan namanya. Praditya Mahardika. Seorang Mahasiswa Kehutanan di universitas kecil ini.  Universitas Kecil, tapi lumayan besar songongnya orang-orang di dalamnya. Ia tak habis pikir universitas sekecil ini saja, kebobrokannya luar biasa, bagaimana dengan universitas yang jauh lebih besar di luar sana. Selama menginjakkan kaki di kampus kecil ini, belum pernah satupun ia menemukan seorang birokrat kampus dengan sesungging senyumnya. Sombongnya minta ampun. Jangankan tersenyum, menjawab pertanyaan mahasiswa pun tak pernah ramah. Apa memang ada pelatihan kepribadian antagonis untuk setiap birokrat di kampus ini? Begitu pikirnya tiap kali bertatap muka dengan birokrat-birokrat kampusnya.
Mahardika memang salah seorang aktivis kampus. Banyaknya kegiatan yang telah dilaluinya selama dua tahun menjadikannya kebal dengan ocehan-ocehan dan ketidakramahan mereka. tapi kali hatinya benar-benar teriris, tak pernah sekalipun seseorang memperlakukannya serendah apa yang dilakukan ibu berjilbab yang ada di depannya detik ini. Lembaran-lembaran kertas ini menjadi bagian dari sejarah kehidupannya. Seandainya bukan karena orang tuanya, ia tak akan pernah mengemis pada wanita berjilbab nan sombong ini.

Selasa, 24 April 2012

Sepotong Bronis Coklat


Hari hampir petang, sedikit lagi matahari lelap dalam peraduannya. Barisan garis jingga nampak elok memandangi nasib seorang wanita tua yang sedari tadi duduk manis di koridor kampusku. ini bukan pertama kalinya kulihat wanita tua itu. Wajah teduh dengan garis umur di wajahnya menambah pilu tatkala tiap hari ia harus menapaki sepanjang koridor kampusku. Kuperkirakan umurnya sekitar 70an keatas. Seperti orang berumur kebanyakan, postur tubuhnya tak lagi tegap. Jalannya pun sudah terlihat berat. Beban umur mungkin. Satu hal yang kusuka darinya, senyum selalu mekar di wajahnya.
Dari kejauhan kupandangi ia tengah merapikan sejumlah uang kertas yang kebanyakan uang seribuan. Sesekali, ia mengelus gulungan rambut putih keritingnya kemudian kembali menghitung uang yang dipegangnya. Mungkin ia lupa jumlah yang telah dihitungnya. Kulihat ia mengulang hitungannya selama tiga kali. Tak salah lagi, uang-uang itu adalah hasil jualan kue seharian.
Hari semakin petang, angin dingin berhembus kencang. Lalu lalang mahasiswa pun semakin berkurang. Sayangnya rintik hujan mulai menyapa. Padahal cuaca nampak aman-aman saja.  Kuurungkan niat untuk pulang, lalu perlahan kudekati wanita tua itu. kulihat di kotak kuenya, masih tersisa dua potong kue bronis coklat. Kusodorkan dua lembar uang kertas dua ribuan lalu kumakan kedua potong kue itu.

Sabtu, 10 September 2011

Sahabat kursi Roda

Namanya Avrina Priyanka. Parasnya yang mengadobsi jelita cloepatra ini kerap kali mengundang kedipan sebelah mata para lelaki yang melintas di depan rumah kami, terkadang diiringi dengan siulan dan tentu saja dengan bumbu senyuman manis mereka. setidaknya hal itu bisa membuat Avrina tersenyum.
            Sepanjang hari dihabiskannya di teras rumah ditemani buku diary dan sebatang pulpen,. Hampir tiap bulan diarynya berganti karena saking seringnya dia isi dengan luapan hati dan pikirannya. Entah apa yang selalu iya tulis, aku tak pernah berani menanyakannya karna aku tahu itu pasti sangat pribadi.
            Usianya sama denganku, 18 tahun. Sayang sekali dia tak pernah mengecap bangku sekolah formal. Ibunya meninggal sejak dia dilahirkan. Sedangkan ayahnya meninggal karna kecelakaan saat ibunya masih mengandung dirinya. Avrina terlahir premature. Kedua kakinya bengkok dan sangat kurus. Kedua tangannya pun demikian. Namun tangannya lebih bisa bergerak bebas dibandingkan kakinya, sehingga iya harus selalu duduk di atas roda. Pernah suatu ketika ibuku memasukkannya ke sekolah khusus untuk anak cacat, tapi ibu kasian dengannya jika harus meninggalkannya di sana. Untuk mengantar dan menjemputpun ibu tak ada waktu, pekerjaannya menyita waktunya kadang sampai larut malam. Karna itu ibu memanggil terapis untuk Avrina. Dan akhirnya Avrina bisa menulis dengan baik. Hanya saja avrina bosan dengan terapi itu, karna menurutnya tak mungkin cacatnya disembuhkan, kedua kakinya tak mungkin diluruskan kembali.