Tampilkan postingan dengan label Coret-coret. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Coret-coret. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Mei 2014

Seperti Kebanyakan Malam

Seperti kebanyakan malam,
Kau, aku duduk bersila,
Bertutur perihal yang sudah,
Kau tentangmu,
Aku tentangku.
Juga perihal angan yang muskil.
Siapa peduli.
Angan itu tak pernah berbatas,
Begitu katamu. Ku iyakan.

Seperti kebanyakan malam,
Kau datang berbekal pagi.
Bekal janji menggurat senyum di bibir.
Katamu, kau adalah senyumku.
Pandai nian retorikamu.
Ah, siapa peduli.
Yang kutahu, malam ini dan malam kebanyakan,
Kau mahir buatku tersenyum.

Seperti kebanyakan malam,
Kidung terlahir,
Malam berakhir,
Sesungguhnya tak benar-benar berakhir,
Kita beranjak membubar sila,
Kemudian menunggu gelap kembali.

Sekali kuulang ketakutanku akan gelap,
Kau mengangguk sebelum kekata kuhabiskan.
Untuk itu kau di sini, katamu.

Dan pada setiap malam berakhir,
Selalu kubisik pada gelap, “andai tak ada ujung malam”.


Bukankah angan tak pernah berbatas?

Minggu, 09 Maret 2014

Salam Hangat dari Blogger Manis ^^

Malam teramat ramah saat aku menuliskan ini. Tepat aku terduduk manis di depan pintu kamar kosan bertemankan bulan, sembari menyeruput segelas es cappucino traktiran tetangga sebelah. Menulis memang lebih nikmat bertemankan malam dan segelas cappucino traktiran.

Beberapa hari bergelut dengan kesibukan yang sama, pada gilirannya membuatku jenuh. Berburu dosen pembimbing kini menjadi kesibukan baru lepas kesibukan jelang akhir kepengurusan di KOSMIK. Iya, akhir bulan lalu aku sibuk dengan persiapan pencopotan jabatan itu. Tanggal sudah satu amanah. Sebab itu hampir sebulan aku tak bercerita di sini.

Tepat saat aku rindu bercerita pada kalian, aku menemukan sebuah pesan di facebookku. Bunyinya kurang lebih seperti ini :

"Hai.. gue Edotz dari Blogger energy, thanks udah klik join komunitas blogger energy di facebook.
Tapi maaf banget belum bisa di-approve, karena kita punya persyaratan khusus..
jadi biar lebih banyak tau tentang Blogger enery bisa baca dulu yang ini, http://www.bloggerenergy.com/2013/02/aturan-calon-anggota-baru.html

bla bla bla....... "

Oke. Sampai saat aku membaca pesan ini, aku merasa amnesia untuk beberapa waktu. Kumohon, tetaplah maklum pada satu sifatku ini. Kalian tentu tak lupa kalau aku seorang "pelupa".
Dan beruntunglah aku membaca inbox facebook malam ini, sebab iya "mengingatkanku" bahwa aku pernah mengklik join pada grup komunitas "bloggerenergy". 
Dan yah, meski sampai saat aku menuliskan ini, aku masih berada pada lupaku. Siapa yang memperkenalkan grup ini padaku? Kapan aku mengklik alamat grup facebook itu? Dimana? Kenapa?

Senin, 10 Februari 2014

Nenekku Sayang kembali Kanak

"Minumlah madu setiap hari, Nek. Madu itu obat segala macam penyakit."

Kubuka pembicaraan setelah sedari tadi nenek memandangiku lekat. Entah apa yang sedang berlalu lalang di imajinya melihat cucu perempuannya semakin dewasa. Sesekali nenek memejamkan matanya. Tapi kutahu ia tidak sedang mengantuk. Beranda rumah memang tempat yang nyaman untuk sekedar melepas kantuk. Terlebih siulan angin yang hilir mudik meninabobokkan tuannya. 

"Iya, tapi maduku sudah habis. Belakangan kepalaku sering sakit. Penglihatanku rasanya sedikit demi sedikit makin kabur. Lututku apalagi, ngilunya berlangganan tiap malam."

Ah, nenekku sudah benar-benar tua. Lama sekali rasanya aku tidak tidur dengannya. Sejak masuk SMA, aku tinggal di rumah tante yang letaknya lumayan dekat dari sekolah. Jarak rumah dengan sekolah bukanlah perjalanan pulang pergi seharian, makanya kuputuskan untuk tinggal di rumah tante di kota. Sejak itu, tante melarangku sering kembali ke rumah. Sekali sebulan saja ia mengizinkanku. Lalu sejak itu, aku tidak banyak berkabar dengan nenek. Terlebih berkenalan dengan dunia kampus, kembali ke kampung tidak lagi masuk dalam daftar keharusan. Saat liburanpun, kembali ke kampung seminggu itu  sudah sangat lama.

Sabtu, 08 Februari 2014

Lagi-lagi Senja

Tak perlu kujelaskan mengapa kau kusebut senja. 

Kutegaskan, aku bukan seorang pengagum rahasia seperti kebanyakan muda-mudi mengistilahkannya. Juga kau, kan? Tapi, mungkin kita pernah saling mengagumi. Iyakah? PD benar aku ini. Biarkan sajalah, sebab aku tahu kau tak mungkin membaca ini. Kau boleh mengistilahkan kata "mengagumi" itu sesuka hatimu. 

Tentu sejak lama kau sudah bisa menangkap pesan yang sama. Kau pastilah paham, sebab kau cukup pandai menjadi komunikan, namun tak begitu pandai menjadi komunikator. Kita sama. Aku pandai menangkap pesanmu. Atau mungkin kita terlalu pandai dalam urusan bertukar pesan? sampai tak diverbalkanpun, kita saling mafhum. Setelahnya, hanya diam.

Dan lagi, sebetulnya kita sudah lama sama-sama paham atas diam kita. Meski sebetulnya kau tahu aku bukan seorang pendiam. Kau pun. Lalu di suatu hari,  kau benar-benar mendiamkanku selayaknya aku sedang tersalahkan. Aku melakukan hal yang sama. Tak perlu khawatir, itulah yang seharusnya aku dan kau lakukan. Bagus, kau sudah melangkahkan sebelah kakimu. Dan bodohnya, kau tarik ulur sebelahnya lagi. Kalau begitu, tetaplah di sana sampai kau jenuh sendiri. 

Rabu, 05 Februari 2014

Kapan Sarjana, Isma?

Sebetulnya saya sudah agak bosan bercerita tentang skripsi, juga tentang status saya sebagai mahasiswa tingkat akhir. Saya pernah bersepakat dengan seseorang atau mungkin sesuatu yang entah siapa dan apa, biarkan semuanya mengalir saja. Kerjakan dan, tunggu saja sampai saatnya tiba. 

Namun ada hal yang ternyata tidak bisa saya hindari. Saya akan selalu berbicara tentang satu hal ini jika saya selalu diingatkan. Siapa yang kumaksud mengingatkan? Mungkin mereka. Mungkin juga kalian.
Pertanyaan yang sesungguhnya beraneka ragam namun intinya sama saja. KAPAN SARJANA?
Adakah sehari saja saya bisa terhindar dari pertanyaan ini? Belum lagi hasutan dari beberapa dosen. Meskipun bahasanya "dibercanda-bercandakan" namun saya yakin mereka bertanya dengan serius-niat sekali mereka mengusir saya dari kampus.
"Kapan maju seminar propoal, Isma?
"Kenapa belum memasukkan blangko judul, Pembimbing sudah habis ini. Atau kamu tahun depan saja?
"Lihat itu anu sudah maju, masa kamu belum?

Bunuh, saja saya, Pak. Kalau ada yang bisa menjamin setelah proposal, bajakannya film Tenggelamnya Kapal Vander Wijck sudah keluar, maka minggu depan pun saya disuruh proposal. Saya memang sedang digalaukan oleh satu hal ini.

Minggu, 02 Februari 2014

Pesan untuk Riy

Ada seorang teman. 
Malam ini aku terjebak dalam sebuah percakapan sederhana dengannya. Percakapan melalui layar dan keyboard laptop. Kau masih ingat teman yang memanggilku "Riy"? Dialah orangnya.

Dengarlah, Aku adalah salah satu di antara banyak orang yang teramat jarang mengaktifkan obrolan di Facebook. Seseorang yang terkadang membalas pesan teman setelah didiamkan beberapa hari dalam inbox, yang tentu saja sebelum akhirnya pesan itu berlumut. Pula seorang anak manusia yang tidak akan membalas pesan atau chatingan jika hanya bermaksud berbasa-basi ingin kenalan. Sungguh, itu lebih dari sangat basi.

Percakapan malam ini aku yang mengawali, tapi tak sebetulnya aku. Seperti yang kukatakan, ada pesan yang kadang sudah bertengger selama berhari-hari di inbox, namun baru saja kubalas. Tak lama setelah kukirim pesanku, balik iya berkirim pesan. Bercakaplah kami. Sekali lagi sederhana. Tentang buku yang ingin ia pinjam padaku, dan oleh-oleh dari kampung halamannya di Kalimantan sana. Aku tak memintanya, dialah yang menawarkan. Alhamdulillah.

Tentang hujan, ia masih ingat rupanya. 
Sudah kubilang, aku tak begitu menyukai hujan, percikannya yang berbaur tanah membuat kotor. Tapi aku suka menuliskannya. Lalu sebab beberapa tulisanku berbicara tentang rinai yang adalah hujan - sampai aku dipanggilnya Riy (sebab Rinai), maka mungkin ia mengingatku saat turun hujan dan saat melihat Judul buku ini 'Aku, kamu, dan Hujan'. Katanya waktu melihat buku itu, ia mau membelinya, namun sebab tak cukup uang, niat ia urungkan. Ah, mengingatku saja aku sudah berterima kasih, teman. 

Ia kemudian menutup pembicaraan dengan kalimat yang tidak kusangka,
"Tips biar inner beauty lebih mempesona ada baiknya berwudhu sebelum tidur.'

Aku tersenyum, tak ada seorang teman lelaki pun yang pernah mengingatkan akan perihal demikian padaku. Berani pula ia mengatakan ini - sementara yg kutau ia adalah seorang ikhwan. Atau apakah mungkin karena ia adalah seorang ikhwan maka ia mengingatkan saudari seimannya? Maka terima kasih yang amat banyak.

Minggu, 19 Januari 2014

Selamat berulang Bulan & Tanggal, Perempuan ^^

Untuk "Perempuan" yang menamai diri Azure Azalea.


Sejak takdir menuliskan diri pada pertemuan kita di sebuah gedung, sejak itu aku lekat pada ingatan akan kau, Perempuan. Jika kau masih ingat, di sana  kita pernah bersila manis, berucap mimpi sama-sama menjadi purna nantinya, saling mendoa dalam dekap semesta. Iya, doa yang membimbing jemari kita pada satu bentukan yang sama. Kurasa kau masih ingat. Karena akupun masih. 

Setelah pertemuan itu, entah dimana kali kedua kita dipertemukan. Aku lupa. Kurasa kau pun. Karena sakit kita sama. Sakit lupa. 

Minggu, 12 Januari 2014

Merindukan Pulang

Benar saja. Pada sebuah rumah, selalu ada rindu untuk pulang. 

Lama mungkin, kita tak lagi pernah semeja untuk sekedar menghabiskan suapan nasi yang adalah hasil kerja kita. Kau benar, mungkin kau patut mengutukku, kawan. Di meja ini, kita pernah saja tertawa di sini. Berbagi obrolan tentang seisi penghuni rumah. Bahkan pernah bercucuran air mata sembari melahap habis cerita di meja makan. Yang kebanyakan membicarakan mereka yang meninggalkan rumah. Mereka yang hanya sesekali saja kembali membuka pintu rumah, sekedar menampakkan wajahnya, lalu kemudian pergi untuk mencari rumahnya yang lain-yang mungkin dirasainya lebih nyaman untuk makan. Atau mereka yang kita pernah sama-sama mengutuk mereka yang tak lagi menganggap rumah ini rumah mereka.

Iya, kurasa kau patut mengutukku. Sekarang aku merasa menjadi mereka. Pergi karena tak lagi nyaman dengan rumah ini. Obrolan sarapan pagi, makan siang, makan malam, atau sekedar duduk menghabiskan segelas air putih, tak lagi aku merasakan hangat. Segalanya dingin. Iya dingin. Bukan makanan dan minumannya, tapi perbincangan kita, yang sesekali dengan mereka. 

Kau tahu? Aku muak. Tapi tetap salah. Meninggalkan kalian. Ragaku saja yang disini, sekedar menyelesaikan tugasku. Memasak untuk kalian atau sesekali makan bersama kalian, itu topeng. Maaf. Sekali lagi maaf. Banyak yang berubah dari rumah kita. Entah hanya mataku saja yang melihatnya, ataukah memang sejak awal ekspektasiku sudah salah tentang rumah kita ini. Ah maaf lagi, untuk harap yang juga tak senilai dengan pengabdianku.

Minggu, 05 Januari 2014

Seseorang Memanggilku "Riy"

Belakangan, ada-ada saja ihwal yang aku tertarik untuk menuliskannya. Sepertinya musim basah belakangan sedikit banyak telah menumbuhkan kembali canduku untuk menoreh cerita di sini. Seperti sebelumnya, pernah kukatakan "pada saat hujan, ada nyanyian yang hanya bisa dirasakan oleh orang yang merindu." Lalu, rindu itu akan mengandung dan melahirkan kembali banyak kenangan yang mungkin akan membuatmu geli atau bahkan larut dalam sedu. Dan menulis sedikit banyak juga telah menjadi penawarnya. 

Aku pernah setuju dengan banyak orang yang ingin melupakan kenangannya. Salah satu cara yang kata mereka mustajab adalah dengan tak ingin menceritakannya kembali. Lalu waktu berontak padaku. Tidak lagi aku sepakat dengan itu. Benar kata seorang teman bahwa kenangan tak pernah bersalah. 

Alasan kedua mengapa musim ini kembali terlahir candu, sebab Rinai kerap memenjarakan kita pada sudut ruangan yang akhirnya hanya berteman keyboard. Lalu tak ada lagi lain pilihan jika tidak dengan menarikan jemari padanya. Iya, seperti beberapa tulisan sebelumnya, aku di sana. Kurasa Rinai akan banyak melahirkan penulis amatiran di dunia. Namun setelah amatiran, semesta akan menjadikannya berarti. Semoga.

Kamis, 02 Januari 2014

Januari Disisakan Desember

Lagi. Kusayangkan tak menuliskan banyak cerita di tahun kemarin.
Pula ingatanku yang kalian tidak ragukan lagi pelupanya, barang tentu tak bisa mengingat semuanya. Mungkin akan kuceritakan, namun hanya kulitnya saja. 

Akan kuingat yang bisa kuingat saja. Kumpulan kenangan pada satu cerita. 
Inilah sebab mengapa aku suka dengan tahun kemarin. Memang aku luput untuk menuliskannya disini, tapi tidak di buku catatan kecilku yang meskipun tak semuanya juga sempat kuceritakan.

"Saat hujan, ada nyanyian yang hanya bisa dirasakan oleh orang yang merindu"
(dipopulerkan oleh Batara Al-Isra yg entah perkataan siapa)

Seperti saat menuliskan ini, hujan di luar sedang berlomba mengguyur daun dan pepohonan. Dengan rakus, iya ruah pada tuannya. Hujan memang sedang ingin berkisah dan bersaksi. Aku yakin, sedang banyak disaksikannya jiwa tengah merindu. Seperti aku merindukan tahunku. tahun dengan kumpulan ceritanya. Bahkan sedikit aku hampir tak ingin Desember berlalu. Terlalu banyak yang ingin kuselesaikan di Desember. Terlalu banyak. Dan Januari disisakannya.

Musim yang Basah

Di luar masih sangat basah rupanya.
Ah, aku lupa, musim memang sedang basah.
Juga, aku hampir lupa, Desember baru saja pergi, kupikir ini masih tahun yang sama.
2013.

Banyak,
Sungguh sangat banyak yang ingin kuceritakan di Desember.
Padamu, juga pada senja.
Belakangan, jarang aku melihat  senja.
Musim membawanya pergi. Mungkin juga kau.

Aku ingin melihat senja.
Tapi,
Aku tak ingin melihatmu.
Semoga juga kau.

Itu sebab senja selalu indah,
Lalu "kita"?

Kamis, 12 Desember 2013

Wasiat Mahasiswa Tingkat Akhir

Dan saya merasa penting untuk menuliskan ini.
Anggap saja ini surat wasiat buat para mahasiswa tingkat akhir, yang mungkin juga wasiat buat diri saya sendiri.

Akan kuceritakan sedikit mengapa akhirnya menuliskan wasiat ini.
Beberapa hari lalu, kertas judul yang kuceritakan tempo hari sudah kembali ke empunya. Perkiraanku sedikit melenceng. Kupikir tidak ada judul yang akan menarik perhatianku. Ternyata "ada".
Judul yang kumaksudkan sebenarnya sudah kuberikan tanda centang, dan itu bisa diteliti dengan metode kualitatif. Dan memang itu yang kuharapkan. Itu artinya akan kukonsultasikan lagi pada dosen mata kuliah MPK.

Namun ada hal yang sesungguhnya membuat saya takut. Sudah kutargetkan untuk menyelesaikan studi pada bulan Maret 2014. Di satu sisi, penelitian yang kuinginkan adalah penelitian kualitatif yang memakan waktu sedikit lama dibandingkan penelitian kuantitatif. Akhirnya saya sedikit ragu dengan Maret. Sebenarnya mudah saja jika ingin penelitian yang pengerjaannya lebih cepat. Ambil saja penelitian kuantitatif. "Jangan susah kayak orang kampung" begitu versi Mimin ooo.