Minggu, 19 Oktober 2014

Untuk Sahabat Penyuka Kopi



 6/7/14 Larut malam, di bumi Qiabi
Hallo Sahabat baru, apa kabarmu? 
(Sebagaimana sapaan awalmu, aku pun ingin menyapa dengan cara yang sama.)

Oh iya, tentu aku harus menjawab pertanyaanmu. Aku baik-baik saja. Semoga kau pun di belahan bumi sana, yang mungkin sedang duduk menyeruput kopi di café baru langgananmu.
Maafkan, untuk balasan yang baru saja bisa kulunasi. Kesibukan telah banyak menyita waktu. Meski sebetulnya dan sebaiknya tak menjadikan itu alasan untuk tak kembali ke rumah. Tapi untuk kembali bergumul dengan keyboard rasa-rasanya aku hanya ingin beristirahat saja.

Tentang ulang tahun yang beroleh surat, ini menjadikannya jauh lebih istimewa dari tahun-tahun sebelumnya. Beroleh kejutan dan kue ulang tahun dari sahabat memang kebahagiaan tersendiri, tapi beroleh surat adalah kebahagiaan yang lain. Kalian, orang-orang yang berhasil memenuhi keingininanku, aku sangat meyakini bahwa kalian adalah orang-orang yang pandai merawat kebahagiaan orang lain.

Ulang tahunpun pernah sama sekali tak istimewa buatku. Kala masih kecil dahulu, aku bahkan tak mengenal apa itu ulang tahun. Baru saat duduk kelas tiga SD sepertinya aku baru mengetahui bahwa berulang tahun itu ternyata berulangnya tanggal dan bulan kelahiran kita. Miris skali yah. Tapi rasa-rasanya memang tak penting menjadikannya istimewa. Budayalah yang sebetulnya menyihirnya menjadi istimewa.

Orang tuaku memang tak pernah merayakannya. Mana ada perayaan ulang tahun di kampungku pada saat itu. Mereka bahkan sepertinya tak peduli dengan hari yang disebut ulang tahun itu. Bersama teman-temanlah, akhirnya aku mengenal keistimewaan pada akhirnya. Berkumpul dan merayakan dengan sangat sederhana kala SMP dahulu. Memanggil teman-teman dekat ke rumah demi bercengkrama seharian di dapur membuat bakwan dan keripik pisang, serta membuat rujak kedodong dan pepaya mengkal. Maklumlah, kami di kampung. Tapi itu menyenangkan, aku jadi merindukan mereka. Oh iya, nama kampungku, Bontotanga, mungkin kau pernah mendengarnya? Letaknya di Kecamatan Bontotiro, Kabupaten Bulukumba. Jika tidak, mungkin kau familiar dengan Bira. Dari sana, jaraknya sekitar 45menit hingga sejam.


Tentang hari ulang tahun lagi, mungkin kau pun pernah dilumuri terigu dan telur yang dipecahkan di atas kepala? Budaya yang juga tak bisa hilang saat itu. Aku ingat benar, pernah dikejar mati-matian oleh teman, saat aku berusaha menghindari beberapa butir telur yang hendak mereka layangkan di atas kepalaku. Hingga nafas ngo—ngosan tidak lagi mendukungku untuk menghindar dari mereka. Walhasil kepalaku serah pada telur dan terigu itu. Nyaris setiap tahun – pada tiga tahun di masa SMP, aku harus mengikhlaskan sepasang pakaianku di 22 Mei berbau amis hingga harus direndam hingga berkali-kali. Ah, menjijikkan, tapi wajib untuk dirindukan.

Sabtu, 05 Juli 2014

Surat Buat Kak Echa



Makassar 25 Mei 2014 (Dini Hari)
Untuk Sahabat…
Echa – yang sepertinya ‘kak Echa’ 


Hallo, Kak!
Gambarmu bagus. Sangat bagus. ^^
Oh iya, seperti janjiku, suratmu tidak akan pincang. Sayang sekali kau tak menuliskan alamat tempat tinggalmu. Semoga saja kau ada waktu untuk membaca surat yang sengaja kutempelkan di dinding rumahku ini.

Apapun alasanmu mengirimkan lukisan berbingkai hitam beserta suratmu, itu sangat manis. Bagaimana kalau kita bersepakat saja bahwa orang-orang yang rela mengirimkanku surat adalah orang yang manis. Percayalah, di zaman yang edan ini, hanya orang-orang yang manis yang rela meluangkan waktu untuk menuliskanku surat, terlebih melukiskan wajah anak yang juga manis (maksa).

By the way, suratmu cukup singkat. Dan akan kubalas pula dengan singkat, sebab sepertinya kau tak suka berbasa basi. Iya sepertinya, ini hanya tebakanku. Tentu saja aku sangat berterima kasih untuk tiga alasan kau menuliskan surat. Untuk alasan kau ingin menepati janji. Iya aku ingat benar, kita pernah berdebat (atau apapun kau ingin mengistilahkannya) tentang berkirim surat, dan kau berjanji akan menuliskan dan mengirimkannya. Ya, kau tepat janji.

Surat Untukmu, Mei-22 !



Seharusnya ini adalah postingan bulan Mei, yang bukan tentang kue ulang tahun dan kejutan, tapi tentang surat dari sahabat.

Hari yang nyaris selalu sibuk tak memberikan banyak luang untuk menceritakan banyak hal di Mei dan Juni. Apa kabarmu wahai para pengirim surat di bulan Mei?
**

Postingan April lalu tentang harapan beroleh surat di bulan Mei sebetulnya membuat sangsi. Adakah yang di hatinya terbetik keinginan untuk bersurat yang sesungguhnya? Ah, ingin saja pun itu sudah cukup. Hingga hari yang dinantikan tiba, keinginan yang menyata seumpama mencelupkan tangan ke dalam air lalu menangkap beberapa ekor ikan yang liar. Menyenangkan sekali, pasti.

Menerima beberapa pucuk surat di bulan Mei mencipta bahagia tak alang kepalang. Jika sahabat merasakannya di zaman sekarang, tentu saja ini jauh lebih membahagiakan dibandingkan menerima surat kala SMP dahulu. Pernah beroleh surat dari kakak senior kala SMP? Aku pernah.

Jika beroleh surat kala SMP hanya menjadikan dongkol berkecamuk karena merasa belum cukup umur untuk beroleh surat  merah jambu, kali ini tidak, ada kebahagiaan tersendiri melihat jenis coretan dan tinta yang berbeda – dan tentu bukan surat merah jambu, melainkan surat sahabat dengan aneka warna.

Hallo Mei-22. Ini hadiah untukmu. (Surat sahabat dan beberapa balasan)

Selasa, 13 Mei 2014

Kawanku, sayangku.

Kawanku,
lekas buka matamu.
Ulurkan jemarimu, Kita menari.
Meniup kabut yang disuguhkan langit.
Lebarkan pandang, bentangkan senyum.
Sapa senja di kaki laut.

Sayangku,
Kembangkan kepakmu.
Pandu kaki ke istana langit,
dendangkan kicaumu.
Biarkan beburung mencibir.
Kabarkan padanya, ihwal persangkaan kita pada bumi.
Kabarkan pula ihwal kekariban kita.
Biarlah segala penghuni awan mencemburui kita.
Bicarakan kerisauan kita pada simpang.

Ah, Saudariku,
Usah kau hitung detik bersisa,
Kelak, Jejak akan mengantarkan kita
pada rindu yang tertinggal.
Mari saling berkasih lewat pusaran doa pada Ilahi.
Jika nanti kepak tak membawa kita pada sua,
Biar doa titiannya.
Untuk Sahabat-Nenni Asriani