Rabu, 02 Mei 2012

Sayang, Kamu Orang Kecil


Wajahnya merah padam, mungkin sebentar lagi meledak. Pandangannya begitu tajam ke arah pria yang tengah menundukkan pandangannya itu.
“Keluar dari ruangan saya, kamu sudah berani memancing emosi saya.”
Dilemparkannya sejumlah kertas beserta map merah ke arah pria itu. Di Bagian depan map bertuliskan namanya. Praditya Mahardika. Seorang Mahasiswa Kehutanan di universitas kecil ini.  Universitas Kecil, tapi lumayan besar songongnya orang-orang di dalamnya. Ia tak habis pikir universitas sekecil ini saja, kebobrokannya luar biasa, bagaimana dengan universitas yang jauh lebih besar di luar sana. Selama menginjakkan kaki di kampus kecil ini, belum pernah satupun ia menemukan seorang birokrat kampus dengan sesungging senyumnya. Sombongnya minta ampun. Jangankan tersenyum, menjawab pertanyaan mahasiswa pun tak pernah ramah. Apa memang ada pelatihan kepribadian antagonis untuk setiap birokrat di kampus ini? Begitu pikirnya tiap kali bertatap muka dengan birokrat-birokrat kampusnya.
Mahardika memang salah seorang aktivis kampus. Banyaknya kegiatan yang telah dilaluinya selama dua tahun menjadikannya kebal dengan ocehan-ocehan dan ketidakramahan mereka. tapi kali hatinya benar-benar teriris, tak pernah sekalipun seseorang memperlakukannya serendah apa yang dilakukan ibu berjilbab yang ada di depannya detik ini. Lembaran-lembaran kertas ini menjadi bagian dari sejarah kehidupannya. Seandainya bukan karena orang tuanya, ia tak akan pernah mengemis pada wanita berjilbab nan sombong ini.

Selasa, 24 April 2012

Sepotong Bronis Coklat


Hari hampir petang, sedikit lagi matahari lelap dalam peraduannya. Barisan garis jingga nampak elok memandangi nasib seorang wanita tua yang sedari tadi duduk manis di koridor kampusku. ini bukan pertama kalinya kulihat wanita tua itu. Wajah teduh dengan garis umur di wajahnya menambah pilu tatkala tiap hari ia harus menapaki sepanjang koridor kampusku. Kuperkirakan umurnya sekitar 70an keatas. Seperti orang berumur kebanyakan, postur tubuhnya tak lagi tegap. Jalannya pun sudah terlihat berat. Beban umur mungkin. Satu hal yang kusuka darinya, senyum selalu mekar di wajahnya.
Dari kejauhan kupandangi ia tengah merapikan sejumlah uang kertas yang kebanyakan uang seribuan. Sesekali, ia mengelus gulungan rambut putih keritingnya kemudian kembali menghitung uang yang dipegangnya. Mungkin ia lupa jumlah yang telah dihitungnya. Kulihat ia mengulang hitungannya selama tiga kali. Tak salah lagi, uang-uang itu adalah hasil jualan kue seharian.
Hari semakin petang, angin dingin berhembus kencang. Lalu lalang mahasiswa pun semakin berkurang. Sayangnya rintik hujan mulai menyapa. Padahal cuaca nampak aman-aman saja.  Kuurungkan niat untuk pulang, lalu perlahan kudekati wanita tua itu. kulihat di kotak kuenya, masih tersisa dua potong kue bronis coklat. Kusodorkan dua lembar uang kertas dua ribuan lalu kumakan kedua potong kue itu.

Selasa, 03 April 2012

Belajar dari Negeri Nihon

taken from google


Beberapa hari lalu saya membaca sebuah artikel di salah satu Koran online yang mengatakan bahwa minat baca masyarakat Indonesia masih sangat rendah. Menurut menteri bidang kesejahteraan rakyat H.R. Agung Laksono, persentase minat baca masyarakat Indonesia hanya sebesar 0,01 persen. Artinya dalam 10.000 orang hanya 1 orang saja yang memiliki minat baca.
Konon, di berbagai literatur banyak dijelaskan bahwa rendahnya minat baca masyarakat Indonesia disebabkan oleh banyak hal. Di antaranya sistem pembelajaran belum membuat siswa ataupun mahasiswa harus membaca buku lebih banyak dari apa yang diajarkan dan mencari informasi atau pengetahuan lebih dari apa yang diajarkan; internet yang seharusnya mampu membawa dampak peningkatan minat baca ternyata tidak pada perannya, ternyata malah disalahgunakan karena sifatnya yang visual; banyaknya hiburan TV dan permainan di rumah ataupun di luar rumah yang membuat perhatian anak ataupun orang dewasa untuk menjauhi buku; banyaknya tempat-tempat hiburan seperti taman rekreasi, karaoke, mall, supermarket, dan lain-lain;, buku dirasakan masih sangat mahal dan begitu juga jumlah perpustakaan masih sedikit dibandingkan dengan jumlah penduduk yang ada dan kadang-kadang letaknya jauh, serta masih banyak lagi alasan mulai dari A sampai Z yang dijadikan alasan rendahnya minat baca di Indonesia.

Sabtu, 10 September 2011

Sahabat kursi Roda

Namanya Avrina Priyanka. Parasnya yang mengadobsi jelita cloepatra ini kerap kali mengundang kedipan sebelah mata para lelaki yang melintas di depan rumah kami, terkadang diiringi dengan siulan dan tentu saja dengan bumbu senyuman manis mereka. setidaknya hal itu bisa membuat Avrina tersenyum.
            Sepanjang hari dihabiskannya di teras rumah ditemani buku diary dan sebatang pulpen,. Hampir tiap bulan diarynya berganti karena saking seringnya dia isi dengan luapan hati dan pikirannya. Entah apa yang selalu iya tulis, aku tak pernah berani menanyakannya karna aku tahu itu pasti sangat pribadi.
            Usianya sama denganku, 18 tahun. Sayang sekali dia tak pernah mengecap bangku sekolah formal. Ibunya meninggal sejak dia dilahirkan. Sedangkan ayahnya meninggal karna kecelakaan saat ibunya masih mengandung dirinya. Avrina terlahir premature. Kedua kakinya bengkok dan sangat kurus. Kedua tangannya pun demikian. Namun tangannya lebih bisa bergerak bebas dibandingkan kakinya, sehingga iya harus selalu duduk di atas roda. Pernah suatu ketika ibuku memasukkannya ke sekolah khusus untuk anak cacat, tapi ibu kasian dengannya jika harus meninggalkannya di sana. Untuk mengantar dan menjemputpun ibu tak ada waktu, pekerjaannya menyita waktunya kadang sampai larut malam. Karna itu ibu memanggil terapis untuk Avrina. Dan akhirnya Avrina bisa menulis dengan baik. Hanya saja avrina bosan dengan terapi itu, karna menurutnya tak mungkin cacatnya disembuhkan, kedua kakinya tak mungkin diluruskan kembali.