Benar saja. Pada sebuah rumah, selalu ada rindu untuk pulang.
Lama mungkin, kita tak lagi pernah semeja untuk sekedar menghabiskan suapan nasi yang adalah hasil kerja kita. Kau benar, mungkin kau patut mengutukku, kawan. Di meja ini, kita pernah saja tertawa di sini. Berbagi obrolan tentang seisi penghuni rumah. Bahkan pernah bercucuran air mata sembari melahap habis cerita di meja makan. Yang kebanyakan membicarakan mereka yang meninggalkan rumah. Mereka yang hanya sesekali saja kembali membuka pintu rumah, sekedar menampakkan wajahnya, lalu kemudian pergi untuk mencari rumahnya yang lain-yang mungkin dirasainya lebih nyaman untuk makan. Atau mereka yang kita pernah sama-sama mengutuk mereka yang tak lagi menganggap rumah ini rumah mereka.
Iya, kurasa kau patut mengutukku. Sekarang aku merasa menjadi mereka. Pergi karena tak lagi nyaman dengan rumah ini. Obrolan sarapan pagi, makan siang, makan malam, atau sekedar duduk menghabiskan segelas air putih, tak lagi aku merasakan hangat. Segalanya dingin. Iya dingin. Bukan makanan dan minumannya, tapi perbincangan kita, yang sesekali dengan mereka.
Kau tahu? Aku muak. Tapi tetap salah. Meninggalkan kalian. Ragaku saja yang disini, sekedar menyelesaikan tugasku. Memasak untuk kalian atau sesekali makan bersama kalian, itu topeng. Maaf. Sekali lagi maaf. Banyak yang berubah dari rumah kita. Entah hanya mataku saja yang melihatnya, ataukah memang sejak awal ekspektasiku sudah salah tentang rumah kita ini. Ah maaf lagi, untuk harap yang juga tak senilai dengan pengabdianku.