Minggu, 12 Januari 2014

Obrolan dengan Tengkorak

Pekuburan adat Kete' Kesu-Toraja (photo by Rohadi Malik)
Hallo, tengkorak. Apa kabarmu?
Kau kah yang aku sua di tempat ini lima tahun lalu?
Kau masih disini rupanya. Berapa tambahan temanmu disini setelah lima tahun tak bersua?
Lihat, semakin banyak tulang yang berserakan.
Sudah berapa banyak yang datang mengunjungimu? Mengajakmu berfoto? Memindahkan tetulangmu?
Jika bisa, apa kau akan berontak?

Tak perlu kau jawab. Biar kuterka.

Merindukan Pulang

Benar saja. Pada sebuah rumah, selalu ada rindu untuk pulang. 

Lama mungkin, kita tak lagi pernah semeja untuk sekedar menghabiskan suapan nasi yang adalah hasil kerja kita. Kau benar, mungkin kau patut mengutukku, kawan. Di meja ini, kita pernah saja tertawa di sini. Berbagi obrolan tentang seisi penghuni rumah. Bahkan pernah bercucuran air mata sembari melahap habis cerita di meja makan. Yang kebanyakan membicarakan mereka yang meninggalkan rumah. Mereka yang hanya sesekali saja kembali membuka pintu rumah, sekedar menampakkan wajahnya, lalu kemudian pergi untuk mencari rumahnya yang lain-yang mungkin dirasainya lebih nyaman untuk makan. Atau mereka yang kita pernah sama-sama mengutuk mereka yang tak lagi menganggap rumah ini rumah mereka.

Iya, kurasa kau patut mengutukku. Sekarang aku merasa menjadi mereka. Pergi karena tak lagi nyaman dengan rumah ini. Obrolan sarapan pagi, makan siang, makan malam, atau sekedar duduk menghabiskan segelas air putih, tak lagi aku merasakan hangat. Segalanya dingin. Iya dingin. Bukan makanan dan minumannya, tapi perbincangan kita, yang sesekali dengan mereka. 

Kau tahu? Aku muak. Tapi tetap salah. Meninggalkan kalian. Ragaku saja yang disini, sekedar menyelesaikan tugasku. Memasak untuk kalian atau sesekali makan bersama kalian, itu topeng. Maaf. Sekali lagi maaf. Banyak yang berubah dari rumah kita. Entah hanya mataku saja yang melihatnya, ataukah memang sejak awal ekspektasiku sudah salah tentang rumah kita ini. Ah maaf lagi, untuk harap yang juga tak senilai dengan pengabdianku.

Minggu, 05 Januari 2014

Seseorang Memanggilku "Riy"

Belakangan, ada-ada saja ihwal yang aku tertarik untuk menuliskannya. Sepertinya musim basah belakangan sedikit banyak telah menumbuhkan kembali canduku untuk menoreh cerita di sini. Seperti sebelumnya, pernah kukatakan "pada saat hujan, ada nyanyian yang hanya bisa dirasakan oleh orang yang merindu." Lalu, rindu itu akan mengandung dan melahirkan kembali banyak kenangan yang mungkin akan membuatmu geli atau bahkan larut dalam sedu. Dan menulis sedikit banyak juga telah menjadi penawarnya. 

Aku pernah setuju dengan banyak orang yang ingin melupakan kenangannya. Salah satu cara yang kata mereka mustajab adalah dengan tak ingin menceritakannya kembali. Lalu waktu berontak padaku. Tidak lagi aku sepakat dengan itu. Benar kata seorang teman bahwa kenangan tak pernah bersalah. 

Alasan kedua mengapa musim ini kembali terlahir candu, sebab Rinai kerap memenjarakan kita pada sudut ruangan yang akhirnya hanya berteman keyboard. Lalu tak ada lagi lain pilihan jika tidak dengan menarikan jemari padanya. Iya, seperti beberapa tulisan sebelumnya, aku di sana. Kurasa Rinai akan banyak melahirkan penulis amatiran di dunia. Namun setelah amatiran, semesta akan menjadikannya berarti. Semoga.

Kamis, 02 Januari 2014

Januari Disisakan Desember

Lagi. Kusayangkan tak menuliskan banyak cerita di tahun kemarin.
Pula ingatanku yang kalian tidak ragukan lagi pelupanya, barang tentu tak bisa mengingat semuanya. Mungkin akan kuceritakan, namun hanya kulitnya saja. 

Akan kuingat yang bisa kuingat saja. Kumpulan kenangan pada satu cerita. 
Inilah sebab mengapa aku suka dengan tahun kemarin. Memang aku luput untuk menuliskannya disini, tapi tidak di buku catatan kecilku yang meskipun tak semuanya juga sempat kuceritakan.

"Saat hujan, ada nyanyian yang hanya bisa dirasakan oleh orang yang merindu"
(dipopulerkan oleh Batara Al-Isra yg entah perkataan siapa)

Seperti saat menuliskan ini, hujan di luar sedang berlomba mengguyur daun dan pepohonan. Dengan rakus, iya ruah pada tuannya. Hujan memang sedang ingin berkisah dan bersaksi. Aku yakin, sedang banyak disaksikannya jiwa tengah merindu. Seperti aku merindukan tahunku. tahun dengan kumpulan ceritanya. Bahkan sedikit aku hampir tak ingin Desember berlalu. Terlalu banyak yang ingin kuselesaikan di Desember. Terlalu banyak. Dan Januari disisakannya.