Rabu, 27 November 2013

Isma-Kuliah-Bolos

Kuliah itu keren. 
Kuliah itu keren. 
Ada yang mengingkari? Terserah, itu urusan kalian.

Di bangku SD, SMP, SMA, mana mau saya bolos sekolah. Dicari ibu guru, dimarahi orang tua, dimarahi ibu guru pastinya. Kalau di bangku kuliah kalaupun kamu tinggalnya bersama orang tua mungkin saja kamu akan dimarahi mereka. tapi yang jelas tidak ada dosen yang protes, kecuali urusannya dengan IP kalian. Dan pastinya saya tidak tinggal dengan orang tua. Tapi itu tidak berarti saya seenaknya saja tidak masuk kuliah karena tidak ada mereka. Untungnya saya bukan anak sejahat itu. Saya masih anak yang baik, lugu, dan selalu memikirkan orang tua di kampung. *Uhuk, kampuuung (baca Versi Mimin ooo).

Selama kuliah, saya ini termasuk mahasiswa yang sering bolos (baca: selama absennya belum disilang 4x pertemuan, silahkan saja). Bagaimana pun sudah tidak bureng-burengnya saya sekarang, hukum mencetak nilai E di transkrip itu masih haram. Nauzubillah.

Silang-silang di absen mulai saya koleksi sejak masuk semester 4. Tapi bukan berarti semester 3 ke bawah tak pernah absen, maksudku, frekwensinya masih jarang.

Beberapa sebab silang-silang itu, seingatku :
1. Dosennya malas masuk (Biasanya modal feeling. Karna dosennya sudah keseringan tidak masuk, feeling biasanya benar, "paling dosenku hari ini nda masuk lagi. Di kamar saja deh, selesaikan tugas yang sudah deadline)

2. Ada kegiatan di luar kota (meskipun jarang-jarang tapi biasanya menyita 3-4 hari waktu kuliah), 
3. Kurang enak badan (biasanya kalau sudah sakit, mahasiswa manapun pasti KO di kamar. Tapi ada juga kurang enak badan yang sebenarnya masih bisa beraktivitas, tapi memang dasar mau saja memanjakan diri. Silang saja absenku pak. Tapi ini kadang-kadang saja),
4. Urus-urus surat (kalau betul-betul mendesak loh ini),
5. Lebih milih buku di kamar dari pada dengar "dosen google" (ada beberapa dosen yang mengandalkan google dan wikipedia)
6. Tidur (Mahasiswa semester banyak - baca: 5 keatas, biasanya lebih memilih tidur di kamar kalau habis begadang kerja tugas yang bukan tugas kuliah atau online sampai larut)
7. Ada rapat (pokoknya selama absen masih di bawah 4, kabur saja dulu)
8. Ada kegiatan di luar kampus (kegiatan penting, entah itu jadi volunteer, panitia, atau jadi peserta di kegiatan2 keren. Sebut saja salah satunya Pertemuan Pengarang Indonesia (PPI)
9. Mengcoding berita. Untuk sementara ini menjadi alasan yang terakhir. 

Ngomong-ngomong tentang mengcoding berita, istilah ini saya kenal di semester 7 yang manis ini. Kerjaan yang sangat membosankan, tapi katanya mencerdaskan (begitu kata kak riza, sang pemilik proyek codingan). Karena kerjaannya baca berita, maka membaca itu selalu mencerdaskan. Kalau pun tidak, itu karna saya memang anaknya pelupa. 

Jadi ceritanya 2 bulan bulan lalu kak Riza meminta tolong pada beberapa orang (saya dan 6 orang teman di Kosmik, sebut saja mereka Ayu, Ulla, Cici, Desi, Fikah, dan Kak Wanto). 

Sebenarnya "peristiwa" mengcoding ini muncul karena proyek penelitiannya kak Riza yang diajukan ke Dikti, begitu setauku. Karena 6 orang itu adalah orang-orang terpilih untuk mengerjakan pekerjaan membosankan ini, Maka selamat berbosan-bosan ria. 

Sampailah saya di sebuah titik jenuh dengan codingan2 membosankan itu. Dengan segala kesibukan, saya mesti menyempatkan diri ke perpustakaan pusat kampus setiap harinya. karna disana terdapat stock koran Fajar bulan Februari 2013. Jadi ceritanya codingan ini tentang berita Pilgub 2013. Codingannya beberapa bulan terakhir sebelum 22 Februari 2013 di dua jenis koran, Fajar dan Tribun Timur. Dan beruntunglah saya yang sangat Pembosan ini hanya mendapat berita di bulan Februari, Fajar. Ini berarti jatah yang saya dapat cuma 22 hari, karena pilgubnya tanggal 22. Namun 22 hari Fajar, sama saja dengan Sebulan Lebih tribun Timur. Fajar begitu maruk menyajikan berita-berita politik pada saat itu. Namun, tetap saja saya lebih beruntung dibandingkan Ayu yang mendapat jatah 2 bulan, dan kak wanto 4 bulan. -____-

Kuliah, kesibukan di luar kuliah, dan codingan. Bergelut dengan mereka dalam waktu bersamaan, membuat codingan berita 22 hari ini selesai hampir sebulan. Untunglah waktu menyelesaikan codingan di bulan oktober kemarin tidak mendesak. Dan selesailah codingan berita-berita itu, selamat bernafas lega.

Namun tidak sampai disitu, pertemananku dengan codingan ternyata masih berlanjut malam itu. Senin, 25 November malam, saya dan beberapa orang teman, tengah asik bercandagurau di beberapa tempat berbeda. 

Ayu tiba-tiba menelpon, dan menjelaskan ada codingan 2 bulan yang harus diselesaikan. Rabu sudah deadline. Kak wanto yang mendapat jatah 4 bulan, juga karna kesibukan hanya menyelesaikan 2 bulan codingan. Selamatlah kami adik2 unyu' yang menyelesaikannya dalam waktu sehari dua malam.

Tiba di kamar dalam keadaan capek, saya disambut oleh tumpukan koran Tribun Timur Edisi November tanggal 1-14. Oh, 2 minggu dalam sehari dua malam. 22 Hari saja, hampir sebulan. *gigit jari. Harus ikhlas, harus ikhlas. Senin malam kutargetkan menyelesaikan paling tidak 5 koran. Sayang seribu sayang, pulang jam setengah 11an, akhirnya tepar sebentar, shalat isya dan.. handponeku berdering. Seseorang menelponku. Lama tak bercerita dengannya, seorang teman. Usai menelpon, kulirik jam kembali, memastikan waktu untuk mengerjakan codingan. Stengah 3 subuh. Ah, kurasa tidak. Besok saja. istirahat dulu dan besok tidak usah masuk kuliah. *Licik.

Berbahagialah di kamar dengan tumpukan koran ini. 


Start jam 8 pagi, selesai jam 9 malam. Maaf makan pun saya tidak sempat, perutku tak merasakan lapar sedikitpun. hanya banyak beristirahat, kadang terpejam sejenak. Tapi sempat juga terpejam sejam lebih. Itu lebih tepatnya disebut tertidur nyenyak.

Dan selamat, kamu, Isma berhasil mengerjakan tugas, tapi bolos kuliah lagi. :D 

4 komentar:

  1. Saya waktu sekolah (SD-SMP-SMA) juga anak baik-baik, lugu, dan tidak kenal bolos. Pas kuliah dan kenal dunia kampus, deh!!! hahaha.. Padahal alasan bolosku hanya karena malas. :p

    BalasHapus
  2. Alasan nomor 8, paling keren :D

    BalasHapus
  3. Ahahahaaa. Berarti kita dan banyak mahasiswa sepertinya sealiran, kak rizka.. Untungnya saya agak kerenjii sedikit bolosku gang.. :D

    BalasHapus
  4. Kak Tulip : sepertinya waktu itu kita juga sealiran kak.. makanya sama2 jadi volunteer :D

    BalasHapus