Sabtu, 23 Februari 2013

Pada Hening Kubisikkan, "Terima kasih"


Begitu cepat detik beralih menit, menit berganti jam, jam berganti hari, hari menjelang bulan, lalu menjelang tahun. Kisah berlalu demikian cepatnya. Tapi kenangan, bahkan abadi tak lekang waktu.
Pada Hening selalu kubisikkan, "I need another story”.
Dari satu kisah ke kisah yang lain, akan banyak pelajaran hidup, akan banyak pengalaman baru, akan banyak orang baru. Semuanya terasa begitu berharga. Ya semuanya, baik atau pun buruk mereka.
Mereka akan mengajarkan banyak hal. Mempertemukan kita dengan sesuatu yang belum pernah kita temukan sama sekali, atau bahkan mempertemukan kita dengan hal yang telah terlupakan. Ya baik ataupun buruk mereka.
Seperti kesimpulanku hari ini, ada lagi pengalaman berharga yang kudapatkan. 40 hari yang lalu (7 Januari-16 Februari 2013) aku dan empat orang temanku dipertemukan dalam suatu kondisi yang membuat kami akhirnya bisa saling membaca satu sama lain, magang di DPR RI. Kalian benar-benar mengajarkanku banyak hal, seperti hening yang selalu mengajarkanku banyak hal termasuk belajar untuk bijaksana. Bersama kalian di tempat yang jauh dari orang tua, jauh dari orang-orang dekat, dengan biaya terbatas, dengan modal keberanian, dengan semangat belajar, dengan target akan melakukan yang terbaik, dan tentunya dengan keegoisan masing-masing.
Demikian semua unsur itu terramu menjadi satu ramuan yang beraneka ragam rasa. tak hanya rasa manis, pahit, asam, asin, bahkan hambarpun mungkin ada. 
Ya, hening selalu saja Bijaksana. Meskipun bagiku, hening tak selalu damai. Aku selalu cemburu padanya, Aku tak seperti hening, tak selalu bisa bijaksana menerima semua kebijaksanaannya. Tak jarang aku menuduhnya telah membawaku dalam kesepian, tanpa sadar kadang  kita butuh untuk sepi, untuk menjadi bijaksana.
40 hari lalu, nyaris tanpa Hening. bahkan sepertinya tak ada waktu untuknya. Tak seperti malam ini, ia menghampiri, maka aku bercerita. Kuceritakan tentang kesepianku malam ini, tentang betapa kurindukannya 40 hari itu.
Kukatakan lagi, ia selalu bijaksana, mengantarkanku pada kesepian, tapi menenangkanku kemudian. Menyadarkan bahwa tak hanya ada satu cerita untuk tiap pelaku, dan aku butuh untuk beradaptasi pada setiap peralihan ke cerita yang baru.  Ia tahu aku sedang beradaptasi dengan suasana tanpa keempat bocah ribut yang selalu bersamaku 40 hari lalu.