Rabu, 11 Juli 2012

Cerita "Mengawali Hari di Pare-Kediri"



Hi, guys... Now i’m in Pare, in Language Village. Since 7 July. why? Because i “must” speak English fluently. Bahasa inggrisku yang berantakan memaksa saya untuk belajar di sini. Tau Pare dari beberapa temanku dan search di internet.  Jauh sebelum ke Pare, saya memang mencari tahu banyak hal tentang Pare. Bukan banyak hal, tapi hal umum tentang kampung bahasa ini. Salah satu informasi yang saya dapat adalah tentang minimnya kendaraan umum, sehingga Pare ini dikenal seperti Jogja dengan berkendaraan dengan sepeda jika memang jaraknya masih mampu dijangkau dengan sepeda.
                Mendengar informasi tentang sepeda ini, rasanya saya terbayang-bayang masa kecil. Bersepeda memang hal yang paling kusukai saat masih kecil. Saking sukanya, pulang sekolah, saya bahkan lupa makan siang hanya untuk bermain sepeda. Just changing clothes and go to bicycling... (so’ kebarat-baratan skrg, padahal baru sekali masuk kelasnya.)
                Dan memang benar di Pare ternyata berhamburan tempat untuk menyewa sepeda. Hari minggunya, exactly on 8 July, saya menyewa sepeda “evergreen” berwarna biru untuk digunakan selama sebulan di Pare. Semacam sepeda ontel modern.

Selasa, 03 Juli 2012

Untuk Orang-Orang yang Mem-Benci


Beberapa waktu lalu sempat kubaca beberapa judul dari Buku “Catatan mahasiswa biasa” Fitrawan Umar (jangan GR k’wawan). Maaf, Ini tentang Maaf, demikian judul tulisan itu. Belum sempat menyelesaikan bacaan itu, aku kemudian teringat beberapa orang yang sempat kuvonis “benci padanya”.
            Ada alasan untuk setiap mereka yang telah berbuat salah sehingga tak mau kumaafkan. Ya, menurutku mereka salah, kesalahan yang teramat fatal yang menjadikanku benci saat itu, saat rasa benci itu mulai tumbuh dan sampai sebelum cacatan-catatan itu menyadarkanku.
            Kata maaf dalam AlQuran menurut Qurays Shihab berarti ‘menghapus’. Karena memaafkan berarti menghapus luka-luka di hati. Karena luka masih tersisa walau sedikit di hati. Apabila luka masih tersisa walau sedikit di hati dan bara dendam masih menyala walau secuil, belumlah seseorang dikatakan memaafkan. Tahap seperti itu masih disebut menhan amarah.
            Paragraf inilah yang membuatku teringat pada beberapa orang. Kuakui, sudah sejak lama kukatakan padanya bahwa ia sudah kumaafkan. Namun, ternyata luka dihati masih tersisa bahkan bara dendam pun masih ada.