Senin, 21 Maret 2011

De’ Ada Uangta 3 ribu??

16.00 .... 2011-03-20
Sejak tadi pagi tadi aku duduk dan mendengar materi di sebuah ruang kuliah di kampus. Sore ini kuputuskan untuk tidak mengikuti hunting fotografi acaranya kosmik. Memang sudah kurencanakan untuk langsung ke rumah tanteku mengambil kiriman dari ibuku karena sudah 2hari kirimanku datang.
Dengan penuh keraguan, kulangkahkan kaki menuju jalan raya dan menunggu mbil jemputanku, mobil biru bertuliskan 07 alias petol-petol. Kemudian aku duduk tepat di belakang pak supir.
Belum semenit menunggu, datanglah sebuah mobil biru 07 dan ternyata tak berpenumpang. Akulah penumpang pertama. Belum jauh dari pintu 02, 07 yang membawaku kemudian berhenti di depan soerang cewe’. Tak jauh dari tempat si cewe, ada lagi seorang penumpang dengan baju hitam kumalnya dan sandal jepit jeleknya.
Dari awal aku sudah mencurigai si bapak kumal tadi, dia seperti orang idiot.cara berjalannya pun agak kurang beres. Seperti orng lagi mabuk.
Distak, , ,
Dia duduk di sebelahku. Ya Allah lindungi aku. Beberapa menit berlalu, kecurigaanku akhirnya pudar. Dia tidak ,menampakkan prilaku yang aneh. Dennganengan aku mengacuhkan tersangka. Aku sibuk bermain dengan handphoneku. Tak lama kemudian aku merasakan lenganku dalam keadaan tak aman. Ada yang menepuk-nepuknya, ternyata itu perbuatan si mabok tadi. Perlahan aku menoleh ke samping. Tiba-tiba....
“de’ ada uang 3ribu ta???” (teeeeeet sepertinya dia memang sedang mabuk, bau arak. Huuuuu)
“yang ada Cuma uang 20rbu pak. Kenapa?”
“bisaka minta uangta 3ribu? Mauka bayar pete-pete tapi tidak ada uangku.”
Kebetulan uangku satu-satunya Cuma 20ribu pa’ , nantipii pas turun baru saya bayarkanki.”
Kembali ku mainkan hpku dan mengacuhkan pa’ mabok tadi. Tak lama kemudian...
“de’ ada uang 3 ribu ta?”
“iya pa’, nantipii saya bayarkanki karna uang 20rbu uangku.”
Kemudian pak supir berbalik dan bertanya. “kenapa itu dek?”
“Minta uang 3ribu pak, tidak ada katanya uangnya untuk bayar pete-pete.”
“Sudah, nda usahmii bayar pak” (pak supir meneriaki si mabok.
Tidak kurang dari 5x dia menayakan hal yang sama. Rasa jengkel, rasa takut, dan beraneka macam rasa kemudian berkecamuk di dalam dadaku, termasuk rasa yang ditimbulkan dari bau arak, rasanya pengen muntah. Di tengah-tengah kacau balaunya perasaanku, rasa was-was kemudian muncul, di atas kepalaku tergambar banyak balon dan bertuliskan...
Ya Allah lindungi aku,,, bagaimana kalo tiba-tiba di merampas tasku dan,,,,,
Menyodorkan badik ke leherku,,,,
Atau mungkin dia bawa pistol,,,
Kemudian membunuh kami satu persatu..
Segera ku masukkan hpku ke dalam tas, dan memegang tasku erat-erat kemudian sedikit bergeser kea rah pak supir.
Dia kembali menanyaiku, tapi agak sedikit beda dengan yang tadi.
“de’ ada uang 5ributa?
“saya Cuma punya uang 20 ribu pa’. Lagian pa’ supir juga sudah kasi gratis.”
“saya mau ke bantaeng de’”
Heeeeeeeeeeeeeey , dasar orang gila, gimana caranya mau ke Bantaeng dengan uang 5 ribu, memangnya mobl sewanya punya nenek moyangnya? Kataku dalam hati.
Aku tak mengeluarkan sepatah katapun. Takutnya dia marah. Seandainya akku punya uang selain uang 20an ini, pasti aku sudah memberinya dari tadi. Dengan uang 20ribu ini pun aku masih takut tidak sampai tujuan. Ke rumahnya tanteku harus menempuh perjalanan dengan 2x pete-pete, belum lagi pulangnya.
Dia kemudian bertanya kepada cewe’ yang ada di depannya. Tapi si cewe’ juga Cuma punya uang 10ribu, itu pun dia meminjam dari adenya. Begitu katanya.
Beruntunglah aku, karena pak supirnya baik, dia kemudian memberhentikan mobilnya dan menyuruh tersangka untuk turun. “tapi saya butuh uang pa” katanya.
“Iya nanti saya kasi, turunmii dulu”, kata pak supir. Dia lalu menyodorkan uang 2 ribu ke arah bapak2 gila dari bantaeng . dan berlalu dari hadapannya.
2011 memang makin keren. Sekarang supir yang bayar ke penumpangnya, bukan lagi pennumpang yang bayar ke supirnya.

Senin, 14 Maret 2011

Cermin Jiwa Seorang Muslimah

apakah saya masih akan tetap seperti ini? Pertanyaan seperti ini sering kali memaksaku untuk berfikir.
Apa yang membuatku bertanya? semua muncul karena keraguan dalam raga. Setiap kali keraguan itu muncul, kupenjamkan mata lalu ku sebut namaNya, berharap petunjuknya membawaku keluar dari semua keraguan ini.
Keraguan apakah yang kumaksud?
Ada kebahagiaan ketika berada di tengah-tengah mereka. Dengan jilbabnya, tutur katanya yang lembut, serta senantiasa mendengungkan kebesaran Allah,,,
Subhanallah, tutur kata yang indah, membuatku sadar beginilah seharusnya seorang muslim. Aurat yang betul-betul mereka jaga menggellitik kerinduan akan nikmatnya menjadi seorang muslimah. Akankah aura keindahan itu tertular untukku?
Malu rasanya berada di tengah hangatnya mereka membicarakan jilbab yang sedang mereka kenakan, motif rok yang mereka bahas, toko jilbab langganan mereka. Hmmm, bukan karena saya tidak berjilbab tetapi karena saya sadar bahwa kukenakan jilbabku bukan karena niat sepenuhnya menutup aurat. Hanya ke kampus dan bepergian saja saya memakainya. Toh di rumah dan sekitarannya saya tidak memakainya.
Lagi-lagi aku berpikir, untuk apa kukenakan jilbabku untuk bepergian namun di rumah dan sekirannya yang sudah jelas berkeliaran orang-orang yang bukan mahram malah tidak kukenakan jilbabku. Apa bedanya aku memakai jilbab dengan tidak jika gayaku seperti ini.
Sudah banyak sekali kejadian yang membuatku malu dengan ketidak konsistenanku memakai jilbab. Semuanya berawal ketika kuinjakkan kakiku melewati garis batas menjadi seorang mahasiswa. Banyak di antara teman-temanku yang melihatku tidak menggunakan jilbab mengatakan “loh, mana jilbabmu?”
Distak, malu, speechless, tidak tau mau ngomong apa ke mereka. Saya jawab saja dengan senyum paling kecut.
Mendapatkan teguran seperti itu menjadi sebuah pelajaran untukku. Mungkin saja teguran kecil seperti inilah yang mengantarku untuk mengubah diriku untuk lebih konsisten memakai jilbab. Namun, tekad untuk menjadi seorang muslimah lebih ingin kutegakkan dari pada memikirkan apa kata orang. Tidak harus jilbab besar yang digunakan muslimah pada umumnya. Menutup aurat sepenuhnya di manapun dan kapanpun itu adalah sebuah niat suci. Tapi sekarang yang menjadi pertanyaan, apakah saya bisa menjalankan niat suci ini? Mungkin terlalu berlebihan menyebut ini adalah niat suci, tapi bagiku ini memang suci. Sebelumnya hal seperti ini masih sangat jauh dari pikiranku. Mungkin ini artinya saya sudah mendapatkan sebuah pencerahan. Hehehe
Memang masih ada keraguan. Tapi harus aku sadari bahwa keraguan itulah yang akan membuatku terus-terus menunda apa yang seharusnya sudah kelakukan. Karena sungguh niat suci seperti ini akan mendapat ridhoNya.

Jumat, 11 Maret 2011

MEREKA YANG KITA ANGGAP INTELEKTUAL

seandainya anjing dan kucing bisa akur, mungkin tempat ini akan damai,
seandainya anjing dan kucing sejalan, pasti semuanya aman,,,, tak ada lagi rasa takut bagi kucing untuk bermain di tempat anjing. anjingpun bisa bermain ke temat kucing.bercanda, bergurau, tertawa, dan melompat bersama. terkadang aku bingung, kenapa dari dulu sampai saat ini mereka slalu menyimpan dendam, selalu berlempar batu, selalu bertatap tajam. tak peduli rusak, tak peduli hancur, tak peduli semua yang akan mereka timbulkan.
saya tak habis pikir, bisa-bisanya mereka hidup dalam satu wadah yang sama namun selalu berlempar batu. pantas sja banyak sorotan tajam yang kemudian mendekat. memvonis tempat ini dengan kata kasar yang semestinya bukan untuk sebutan kaum terpelajar.
disini.
rasa aman pun bahkan menjadi sebuah keraguan. kadang harus berstatus palsu ketika menyebrangi dinding pemisah itu. bodoh, inikah kaum intelektual??? satu kandang saja mereka tidak bisa saling menjaga.
bersaing kekuatan bukanlah hal yang seharusnya mereka lakukan. bersainglah di meja peraduan otak.
bermain bersama akan membawa keindahan bagi mereka yang memandang di luar sana.
anjing dan kucing memang sulit untuk bersatu, tetapi bukan berarti mereka tak bisa bersatu.

Izinkan Aku menjadi Malam yang Selalu Dirindukan Senja

sosok sepertimu bukanlah hal baru dalam hidupku. tersenyum. tertawa. bergurau. itu yang kutau. seperti senja yang rupawan, penuh keindahan dan kejujuran, betapa bahagia menyambut malam. bagaimana jika aku ingin menjadi malam??? mungkinkah kau senja itu??? aku tau kau tak mungkin menjawab. aku tau kau bimbang. mungkin kau bisa menjadi senjaku, tapi.... aku tau kau tak mungkin bahagia dengan dua peranmu.kau sudah menjadi guratan indah sang fajar yang dirindukan siang.
kurasa ini bukan tempatku.
mungkin aku bisa menjadi langit. aku pasti bahagia melihat indahmu, namun ketika malam datang, aku mohon jadilah bintang untukku, agar sang malam tampak indah, meskipun peran siang akan menjadi bulan di malam hari. setidaknya aku bisa menyaksikan keindahan kalian.
aku sadar, bukan hanya senja yang membuat malam bahagia, ada fajar nan elok yang senantiasa menyambutku.